SMARTPEKANBARU.COM — Fisioterapi sering disalahpahami masyarakat sebagai metode pengobatan yang baru dicari saat tubuh sudah telanjur cedera parah.
Padahal, peran fisioterapis lebih luas: fokus pada pemulihan, pemeliharaan, hingga peningkatan fungsi gerak tubuh secara proaktif.
Dalam program Healthy Talkshow kanal YouTube Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru, host Alvin Gazali mengupas profesi ini bersama narasumber Fisio Ramdan Pratama, S.Ft., Fisioterapis Sport Center RS tersebut.
Fisio Ramdan pernah berkarier sebagai fisioterapis di klub sepak bola profesional Borneo FC Samarinda dan RANS FC. Ia membagikan bagaimana satu profesi ini memegang dua peran berbeda di dunia olahraga dan rumah sakit.
Peran di Dunia Olahraga Profesional Di klub sepak bola, tugas fisioterapis dimulai sejak masa pra-musim, 2 hingga 3 bulan sebelum kompetisi resmi. “Kita melakukan screening menyeluruh kepada semua pemain untuk melihat potensi cedera, baik dari segi kekuatan otot, kelenturan, mobilitas, hingga kecepatan,” ujar Fisio Ramdan.
Data itu digunakan menyusun program preventif untuk melindungi pemain sebagai aset tim.Selain menyusun strategi pencegahan bersama pelatih kepala dan pelatih fisik, fisioterapis jadi garda terdepan yang langsung ke lapangan saat cedera akut di pertandingan.
Jenis cedera yang ditangani: ligamen lutut ACL, robekan meniscus, engkel, hingga benturan kepala.Suka duka di olahraga: sukanya kebersamaan erat dengan atlet di mes tim dan bonus melimpah saat menang.
Dukanya tekanan waktu dari pelatih agar pemain pulih dalam hitungan hari, cedera menumpuk di akhir musim, dan kelelahan fisik akibat travelling antarprovinsi sambil membawa banyak peralatan medis.
Peran di Rumah Sakit Sport Center Di Sport Center RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, pasien yang ditangani lebih beragam: atlet profesional lintas cabang olahraga hingga masyarakat umum seperti pekerja kantoran dan ibu rumah tangga.
Mayoritas kasus fase pemulihan pasca-operasi besar: rekonstruksi ACL, robekan meniscus, patah tulang, atau cedera terpeleset.
Berbeda dengan klub olahraga yang targetnya return to sport, target fisioterapi masyarakat umum di rumah sakit adalah return to function: mengembalikan kemandirian pasien beraktivitas sehari-hari tanpa nyeri.Tantangan terbesar membangun komitmen dan motivasi pasien.
Pertemuan di rumah sakit terbatas 2-3 kali seminggu. Kunci kesembuhan ada pada disiplin pasien menjalankan latihan mandiri di rumah. Pasien tidak disiplin berlatih sering terhambat pemulihan: sendi tidak bisa lurus atau cara jalan pincang.
Edukasi: Jangan Tunggu Cedera
Fisio Ramdan menegaskan cedera bisa terjadi kapan saja tanpa diduga. Masyarakat tidak perlu menunggu telanjur cedera untuk konsultasi ke fisioterapis. Fisioterapi bisa deteksi dini kelemahan otot atau ketidakseimbangan postur sebelum jadi cedera.
Usia 30-40 tahun ke atas alami penurunan massa dan kapasitas fungsi otot tiap tahun. Otot jadi perisai pelindung tulang dan sendi. Otot kuat dan terlatih jadi peredam kejut alami saat terpeleset.
Otot lemah membuat benturan ringan berakibat fatal seperti patah tulang atau ligamen putus.Ia meluruskan miskonsepsi olahraga: jalan kaki, jogging, berenang dominan melatih jantung dan paru-paru, bukan kekuatan otot. Melatih massa otot mutlak butuh latihan beban.
Masyarakat diimbau sisihkan waktu minimal 25-30 menit sehari untuk gerakan penguatan otot mandiri di rumah. Gerakan sederhana tanpa ruangan luas atau alat mahal seperti squat, lunges, side lunges efektif menjaga tubuh kuat, fleksibel, dan aman dari risiko cedera jangka panjang.
