Oleh: RHR Dodi Sarjana (Positive Communication)
Pekanbaru memiliki sebuah ironi geografis. Kita tinggal di kota yang dibelah Sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia, tetapi sering kali kita “membelakanginya”. Kita bangga dengan jembatan-jembatan besar, tetapi lupa pada urat-urat kecil yang menghidupinya, yakni anak-anak sungai itu.
Salah satunya adalah Sungai Sail.
Jika Siak adalah nadi utama, Sail adalah kapilernya. Panjangnya hanya 29 kilometer, dengan lebar rata-rata 10 meter. Ia tidak megah. Ia lahir dari rawa-rawa Tenayan, mengalir diam-diam menembus Sukamaju, Cinta Raja, hingga ke jantung kota, lalu bermuara pelan di Kampung Bandar, tepat di belakang Rumah Singgah Tuan Kadi, tempat cikal bakal kota ini bernama Senapelan.
Lokasi itulah barangkali yang seharusnya bisa kita garap. Bukan seluruh 29 kilometer. Cukup 2,4 kilometer paling strategis: dari kolong Jembatan Sail (Jalan Hangtuah) sampai muara di Kampung Bandar. Itu adalah segmen emas. Di kiri-kanan ada Kecamatan Bukit Raya dan Sail yang padat, akses mudah, dan secara historis merupakan pertemuan antara kota baru dan kota tua.
Hari ini, apa yang ada di sana? Semak, sampah, dan ingatan tentang banjir. Padahal, kita sudah punya modalnya: jembatan kuning-biru yang ikonik, yang setiap sore sudah menjadi spot foto.
Tak perlu kita bermimpi seperti Waterfront City Sungai Siak yang luas dan mahal. Bermimpi kecil tetapi hidup seperti Melaka, Malaysia. Sungai Melaka lebarnya tak jauh berbeda dengan Sail. Dua puluh tahun lalu ia comberan. Hari ini ia menjadi ikon dunia karena satu prinsip: bersihkan airnya, hidupkan tepiannya, biarkan warganya berdagang.
Atau tiru Kuching Waterfront, Sarawak. Di sana pemerintah tidak membangun mal. Mereka hanya membangun esplanade—jalur pedestrian batu alam 1,5 meter di kiri-kanan sungai, lampu temaram, bangku kayu, dan puluhan kios kecil beratap seragam untuk UMKM. Tidak ada bangunan permanen besar di bantaran. Semua bongkar pasang.
Atau yang paling dekat secara emosi: Cheonggyecheon, Seoul. Mereka membongkar jalan layang dan mengembalikan sungai kecil yang tertutup beton. Hasilnya? Suhu kota turun 3 derajat dan wisatawan datang hanya untuk duduk diam mendengar air.
Sail bisa seperti itu.
Solusinya bukan beton, tetapi tiga langkah membumi.
Pertama, normalisasi dengan gotong royong, bukan hanya alat berat.
Sail bukan butuh turap beton tinggi yang mengusir warga. Ia butuh pengerukan sedimen rutin dan, yang terpenting, bank sampah sungai. Warga Sail sudah punya budaya Miso Pak Lek sejak 1974, gorengan seribuan yang viral—libatkan mereka menjadi penjaga sungai. Beri insentif, kios gratis bagi yang ikut bersih sungai setiap Jumat.
Kedua, bikin zonasi UMKM, bukan kafe modal besar.
Jangan undang franchise. Undang 30 lapak pertama: Miso Sago Pekanbaru, Sate Ikan Selat Panjang, Es Tebu, Gorengan, Teh Tarik. Atapnya pakai kajang atau seng biru-kuning seragam—warna identitas Jembatan Sail. Harga Rp15 ribu, bukan Rp45 ribu. Waterfront yang hidup adalah yang murah.
Ketiga, beri cahaya dan keamanan, bukan panggung megah.
Yang dibutuhkan Sail bukan panggung hiburan besar. Cukup lampu gantung (fairy lights) di pohon-pohon ketapang yang sudah ada, toilet bersih, tong sampah terpilah, dan satu pos jaga. Orang Pekanbaru hanya butuh tempat duduk yang aman untuk makan miso sambil melihat anaknya bermain.
Bayangkan nanti: sore pukul 17.30, kita duduk di bangku kayu di tepian Sail. Di depan, anak-anak bermain bola di pedestrian, di sebelah gerobak miso mengepul, lampu mulai menyala, azan dari Masjid Raya Senapelan terdengar samar, dan air Sail yang dulu hitam kini mengalir pelan menuju Siak.
Kita tidak butuh sungai baru. Kita hanya perlu mengingat sungai lama.
Dan Sail, yang selama ini hanya menjadi saluran buang, bisa menjadi ruang tamu baru Pekanbaru.
