Oleh: RHR Dodi Sarjana
KALAU kita melintas di Jalan Datuk Setia Maharaja—yang lebih dikenal orang Pekanbaru sebagai Jalan Parit Indah—cobalah sekali-kali pelankan motor atau mobil. Buka kaca, meskipun AC harus mengalah dengan bau asap.
Di sebelah jalan, ada sungai kecil. Airnya coklat, pinggirnya ditumbuhi semak liar, terkadang ada serakan sampah dan plastik, beberapa bibir sungai mulai longsor. Di situlah sejarah Pekanbaru mengalir pelan-pelan, nyaris tak terdengar.
Dulu, namanya bukan got. Namanya parit. Dan parit di Pekanbaru zaman Senapelan tahun 1784 adalah jalan tol. Iya benar, dulu Jalan Tol Air.
Menurut sejarahnya, Pekanbaru lahir bukan dari jalan darat, tapi dari Sungai Siak. Kapal-kapal Belanda tidak bisa masuk ke pedalaman, maka barang diturunkan di Senapelan. Untuk menghubungkan pemukiman di rawa-rawa Bukit Raya ke pusat perdagangan, orang Melayu menggali parit-parit besar.
Parit Indah adalah salah satunya. Lebarnya dulu 6 meter, jernih, bisa dilalui perahu kajang membawa karet dan rotan. Karena airnya jernih dan pinggirnya dipenuhi pohon bungur yang berbunga ungu dan pohon nibung yang tinggi, orang menyebutnya Mooie Parit—parit yang indah. Belanda yang memberi nama puitis itu.
Ia adalah urat nadi, irigasi alami, dan benteng banjir pertama kota ini. Sekarang dia ibarat urat nadi yang tersumbat.
Hari ini, keindahan Parit Indah seolah tinggal nama. Secara hidrologi, ia masuk dalam DAS Sail. Secara birokrasi, ia masuk dalam peta rawan banjir menengah BMKG untuk Kecamatan Bukit Raya. Secara kasat mata, ia sudah menyempit menjadi 2 meter, dangkal 1,5 meter karena sedimentasi, dan sebagian bibirnya sudah dicor jadi teras warung atau yang lainnya.
Fungsinya berbalik, dulu menyelamatkan banjir, kini bisa menyebabkan banjir. Data BPBD Kota Pekanbaru menyebut 70% kota ini rawan banjir karena sungai-sungai primer tidak dinormalisasi, sehingga parit-parit kecil seperti Parit Indah tidak punya tempat membuang air. Hujan satu jam, beberapa ruas Jalan Parit Indah bisa tergenang.
Untuk masa depan, jika saja kita berani bermimpi besar. Atau paling tidak meniru mimpi Seoul, duuhhh indahnyo….
Lihatlah sekeliling sungai di Parit Indah, di sepanjang 3,2 kilometer parit itu masih ada sisa-sisa pohon besar. Mungkin trembesi, mahoni, dan bungur tua yang asri. Kalau dibersihkan, ini adalah satu-satunya koridor hijau yang masih utuh di tengah kepadatan Bukit Raya.
Apa yang bisa dilakukan? Jangan berpikir terlalu jauh. Lihat Cheonggyecheon di Seoul. Sungai kotor di tengah kota yang ditutup beton selama 40 tahun, lalu dibuka lagi oleh Wali Kota Lee Myung-bak menjadi sungai wisata 5,8 km. Atau lihat Kali Pepe di Solo, atau Kali Code di Yogya.
Parit Indah tidak perlu jadi seperti Venice. Ia cukup jadi seperti dirinya sendiri dulu.
Mari kita membayangkan lagi. Ada normalisasi yang intens. Keruk dan tata lagi hingga 4 meter lebar, bukan dengan beton semua, tapi dengan turap alami dan vetiver grass. Bantaran 3 meter kiri-kanan dibebaskan, tidak untuk ruko atau bangunan, tapi untuk jalan inspeksi yang bisa jadi jogging track.
Lalu bikin juga koridor hijau produktif. Pohon yang ada dipertahankan. Tambah tabebuya kuning dan bungur seperti dulu. Di bawahnya, warga bisa menanam kangkung dan pakcoy hidroponik di atas parit—seperti di Surabaya. Paritnya bersih, hasil panennya bisa dijual.
Mari mengkhayal lagi, ada wisata air kecil di sana. Tidak perlu kapal besar. Cukup perahu sampan listrik atau kayak untuk anak-anak sekolah. Di titik-titik tertentu dibuat halte kecil: Halte Sejarah—di mana dulu perahu kajang bongkar muat, Halte Literasi—perpustakaan mini di atas parit, Halte Kuliner—tapi kulinernya tidak buang limbah ke parit.
Jika ditata rapi, maka irigasi kota juga akan terjaga. Dengan pintu air sederhana di hulu dan hilir, Parit Indah bisa menjadi kolam retensi alami. Saat hujan, ia menampung. Saat kemarau, airnya untuk menyiram taman kota Bukit Raya yang selama ini kekeringan.
Ini bukan utopia. Anggaran Rp13 miliar bantuan provinsi tahun 2023 untuk Parit Indah saja kalau dipakai bukan untuk aspal, tapi untuk sungai, sudah cukup memulai 500 meter percontohan.
Persoalannya bukan uang. Persoalannya adalah cara pandang. Apakah kita melihat sungai kecil itu sebagai selokan yang harus ditutup, atau sebagai warisan Senapelan yang harus dihidupkan?
Gudeg membuat Yogya diingat. Cheonggyecheon membuat Seoul dikagumi. Mungkin sudah saatnya Pekanbaru punya kebanggaan baru: bahwa di tengah kebisingan Jalan Parit Indah, ada sungai kecil yang indah lagi—benar-benar indah, bukan hanya namanya.
Dan anak-anak Bukit Raya bisa lagi mandi di sana, seperti kakek mereka dulu.
Catatan:
Menurut sejarahnya, semua parit di Pekanbaru adalah jalur perahu kecil penghubung Sungai Siak ke pedalaman.
Dalam buku Sejarah Kota Pekanbaru—Dinas Kebudayaan Riau dan tulisan Tenas Effendy—dijelaskan Pekanbaru berawal dari Kampung Payung Sekaki yang dipimpin Batin, lalu Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah membangun istana di Kampung Bukit (dekat Masjid Raya sekarang) dan berinisiatif membuat pekan. Ini yang jadi dasar cerita kenapa parit-parit digali mengelilingi pasar.
Nama “Parit Indah/Mooie Parit”, dari arsip lisan dan peta Belanda:
- Peta Topografi Pekanbaru 1932—Kaart van het Landschap Siak (ada di Arsip Nasional). Di peta itu, alur yang sekarang jadi Jalan Parit Indah ditulis sebagai Mooie Parit atau Parit Datuk Setia Maharaja. Nama “Indah” muncul karena di sekitarnya masih banyak pohon bungur.
- Buku Pekanbaru Tempo Doeloe oleh Alm. Akbar S. Lubis—wartawan senior Riau Pos—menuliskan bahwa daerah Bukit Raya tahun 1950-an masih hutan karet dan parit-paritnya masih jernih untuk mandi.
Parit Indah bukan sungai alam murni, tapi kanal tradisional Melayu yang diperlebar di era kolonial dan era Caltex 1970-an. Sejarah besarnya ikut sejarah Senapelan, sejarah kecilnya ikut sejarah drainase kota Pekanbaru.
