SMARTPEKANBARU.COM – Profesi pekerja arsip di kantor, perpustakaan dan lembaga pemerintahan ternyata menyimpan risiko kesehatan yang sering tidak disadari. Peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global, Dicky Budiman mengingatkan bahwa paparan jamur serta debu kronis di ruang penyimpanan dokumen dapat memicu gangguan saluran pernapasan pada para pekerja arsip.
Menurut Dicky, institusi harus memiliki program kesehatan kerja khusus dan pemantauan medis rutin untuk pekerja yang bertugas di ruang arsip.
“Harus ada penilaian awal melalui pemeriksaan kesehatan atau pre-placement medical check-up sebelum ditempatkan di unit arsip. Pastikan tidak ada riwayat asma, alergi, penyakit paru, autoimun, atau imunokompromis,” jelasnya, Selasa (25/11/2025).
Risiko Kesehatan di Ruang Arsip
Ruang arsip yang lembap, berdebu, atau mengalami kebocoran berpotensi meningkatkan pertumbuhan jamur. Hal ini bisa menimbulkan gejala kesehatan seperti:
1. batuk kronis
2.sesak napas
3.alergi dan iritasi mata
4.infeksi saluran pernapasan berulang
Dicky menyarankan pemeriksaan fungsi paru seperti spirometri, pemantauan gejala kesehatan, dan evaluasi tahunan untuk memastikan kesesuaian kondisi fisik pekerja.
Dicky menekankan urgensi adanya mekanisme pelaporan yang mudah bagi pekerja. Jika muncul gejala seperti sakit kepala, mata gatal, atau bau apak setelah memasuki ruang arsip, laporan tersebut harus dicatat sebagai insiden keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan ditindaklanjuti dengan inspeksi ruangan.
Data kesehatan pekerja juga harus diintegrasikan dengan pemantauan kondisi lingkungan ruang arsip. Bila ditemukan peningkatan kelembapan, bintik jamur di rak atau dinding, atau penundaan pembersihan rutin, maka perbaikan perlu segera dilakukan.
Dicky juga memberi contoh protokol keselamatan yang harus diterapkan seeprti misalnya penggunaan APD seperti masker dan sarung tangan lalu pelatihan cara membuka arsip dengan benar.
Kemudian tidak diperbolehkan makan/minum di ruang arsip serta mencuci tangan sebelum keluar ruangan, membuka boks arsip di meja khusus dengan ventilasi lokal terakhir memanfaatkan alat pembersih yang tepat
“Jangan mengimbas-imbas arsip ya. Gunakan sikat lembut atau vakum HEPA,” tegasnya.
Institusi juga harus menetapkan standar pembersihan dan dekontaminasi yakni jamur dibersihkan dengan metode basah aman menggunakan etanol 70 persen pada permukaan terdampak, hindari bahan kimia keras seperti klorin di ruangan tertutup, lalu limbah debu disimpan dalam kantong tertutup. APD sekali pakai dibuang sebagai limbah domestik yang terbungkus rapat.
Dicky mengingatkan, arsip memang penting sebagai jejak sejarah institusi, namun keselamatan pekerja adalah prioritas utama.
“Koleksi arsip penting, tapi kesehatan arsiparis lebih penting lagi,” ujarnya.
Sumber : Tribunnews.com
