SMARTPEKANBARU. COM — Olahraga lari kini bukan lagi sekadar tren rekreasi mengenakan pakaian dan sepatu seadanya. Di tengah meningkatnya antusiasme masyarakat, lari telah bertransformasi menjadi aktivitas berbasis sains olahraga (sport science).
Pendekatan ini menuntut pemahaman mendalam bahwa program latihan, nutrisi, hingga pemilihan perlengkapan harian harus disesuaikan secara personal dengan kapasitas fisik masing-masing individu.
Hal tersebut ditegaskan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru, Dr. Septia Mandala Putra, Sp.K.O., dalam siniar (podcast) kesehatan bertajuk “Run Smart, Run Strong” yang disiarkan baru-baru ini.
Ia mengimbau para pelari, khususnya pemula, untuk tidak serta-merta meniru pola latihan atau perlengkapan atlet profesional tanpa memahami batasan tubuh sendiri.
Menurut Dr. Septia, sebelum memutuskan untuk turun ke lintasan lari, seorang calon pelari idealnya menjalani pemeriksaan partisipasi awal (Pre-Participation Examination/PPE) Evaluasi medis ini sangat krusial guna memetakan kondisi kesehatan jantung, paru-paru, metabolisme darah, hingga kesiapan sistem otot dan sendi.
“Setiap orang diciptakan berbeda-beda dengan keunikan anatomi masing-masing, seperti adanya kondisi flat feet atau kaki ceper.
Program latihan atau tipe sepatu yang sukses di orang lain belum tentu cocok untuk kita. Salah memilih bisa berujung pada cedera serius,” ujar Dr. Septia.Lebih lanjut, Dr. Septia menyorotitiga fase latihan yang tidak boleh dilanggar oleh pelari:pemanasan (warm-up), latihan inti, dan pendinginan (cool-down).
Sesi pemanasan selama 5 hingga 7 menit dinilai sudah cukup jika dilakukan dengan gerakan dinamis yang spesifik mengaktifkan otot tubuh bagian bawah, seperti paha, betis, dan persendian kaku.Melewatkan fase pemanasan, jelasnya, akan memicu lonjakan denyut nadi secara mendadak.
Akibatnya, tubuh akan mengalami kelelahan prematur karena belum siap menerima beban kerja. Sinyal kelelahan ini dapat diukur dengan mudah menggunakan talk test (tes bicara).Apabila pelari mulai mengalami kesulitan berbicara atau napas terputus-putus saat berbincang, hal itu menjadi tanda mutlak bahwa intensitas lari telah melampaui ambang batas aman dan harus segera diturunkan.
Isu krusial lain yang sering kali diabaikan pelari di daerah tropis adalah manajemen hidrasi.Sesi lari jarak jauh (long run) yang terpapar cuaca panas ekstrem menyimpan risiko terjadinya heat stroke atau sengatan panas jika pelari terus-menerus menunda minum dengan alasan menjaga ritme kecepatan.
Untuk memitigasi risiko tersebut, regulasi hidrasi yang ideal mewajibkan pelari mengonsumsi air setidaknya 200 cc setiap menempuh jarak 2 hingga 2,5 kilometer.
Kegagalan dalam merespons rasa haus dapat menyebabkan darah mengental dan memicu kram otot parah, dehidrasi akut, hingga kejang lintasan yang mengancam jiwa.
Terkait keselamatan di jalan raya, berita ini juga menggarisbawahi rekomendasi teknis bagi pelari untuk selalu berlari melawan arus lalu lintas jika terpaksa menggunakan jalur kendaraan umum.
Metode ini memberikan visibilitas penuh bagi pelari terhadap pergerakan mobil atau motor di depannya, sekaligus meminimalkan risiko tabrakan dari arah belakang.
Sebagai penutup, Dr. Septia mengingatkan bahwa tubuh manusia memiliki kecerdasan alami untuk mengirimkan sinyal rasa nyeri atau tidak nyaman sebagai sistem peringatan dini.
Dibandingkan memaksakan diri menyelesaikan target kilometer dengan bantuan obat pereda nyeri instan, pelari cerdas harus berani mengevaluasi kualitas tidur malam dan asupan protein harian sebagai pondasi pemulihan sel otot yang cedera.
