SMARTPEKANBARU.COM – Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru melalui program podcast edukasi kesehatan membahas dilema yang sering dialami masyarakat, yaitu keamanan menjalankan ibadah puasa bagi pasien yang baru saja menjalani tindakan pembedahan atau operasi.
Layanan edukasi ini dihadirkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tetap bisa beribadah dengan aman tanpa mengabaikan proses pemulihan luka dan kesehatan fisik pasca operasi.
Informasi tersebut disampaikan oleh narasumber ahli, dr. Eko Hamidianto, Sp.B (Dokter Spesialis Bedah RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru) dalam sesi tanya jawab interaktif.
“Sebenarnya tidak ada larangan mutlak bagi pasien pasca operasi untuk berpuasa, asalkan kondisi luka sudah stabil dan kebutuhan nutrisi serta cairan harian tetap dapat terpenuhi di waktu berbuka hingga sahur,” katanya.
dr. Eko menjelaskan bahwa keputusan boleh atau tidaknya berpuasa sangat bergantung pada jenis operasi yang dilakukan, apakah itu operasi kecil (minor) atau operasi besar (major).
“Kuncinya adalah pada masa pemulihan. Jika operasi bersifat minor dan tidak memerlukan asupan obat-obatan rutin di jam-jam tertentu pada siang hari, pasien biasanya diperbolehkan berpuasa. Namun, bagi pasien yang baru menjalani operasi besar dalam waktu kurang dari seminggu, puasa sebaiknya ditunda karena tubuh memerlukan energi ekstra,” ujarnya.
Ia menambahkan, faktor utama yang harus diperhatikan adalah status hidrasi dan asupan protein. Tubuh manusia memerlukan metabolisme yang stabil untuk menyembuhkan jaringan yang terluka akibat sayatan bedah.
Dalam sesi tersebut, dr. Eko juga menanggapi berbagai kekhawatiran yang disampaikan netizen melalui kolom komentar Live Chat, antara lain:
Tanda-tanda Harus Membatalkan Puasa
Menjawab pertanyaan @putrianjelina9931, dr. Eko menekankan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Pasien harus segera membatalkan puasa jika merasakan gejala dehidrasi berat, pusing hebat yang tidak tertahankan, lemas luar biasa (hipoglikemia), atau jika muncul demam tinggi secara tiba-tiba yang menandakan tubuh sedang berjuang melawan infeksi dan membutuhkan cairan serta obat segera.
Risiko Infeksi Akibat Kurang Nutrisi
Menanggapi @nayla1377, beliau menjelaskan bahwa puasa sebenarnya tidak secara langsung meningkatkan risiko infeksi, asalkan kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi selama jendela waktu berbuka hingga sahur. Namun, jika pasien mengalami malnutrisi kronis karena asupan yang sangat terbatas saat berbuka, sistem imun dapat menurun dan memperlambat penyembuhan jaringan luka.
Tips Asupan Protein Tinggi
Untuk pertanyaan @adinptri24, dr. Eko menyarankan strategi “padat nutrisi”. Pasien pasca operasi wajib mengonsumsi protein tinggi (seperti telur, ikan, atau daging) baik di waktu sahur maupun berbuka. “Jangan hanya kenyang dengan karbohidrat atau air saja. Pastikan ada porsi protein yang cukup untuk membantu regenerasi jaringan yang rusak akibat operasi,” jelas beliau.
Pengaruh Puasa terhadap Konsumsi Obat
Menjawab @DaviraFebriana, dokter menjelaskan bahwa sebagian besar obat pasca operasi bisa digeser jadwalnya ke waktu sahur dan berbuka. Namun, untuk obat-obatan tertentu yang harus diminum tiap 8 jam (seperti antibiotik khusus), pasien harus berkonsultasi lebih lanjut. Jika kondisi memerlukan obat yang tidak bisa ditunda di siang hari, maka pasien disarankan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu demi efektivitas terapi.
dr. Eko menegaskan bahwa “puasa tidak menghalangi kesembuhan, namun kesembuhan tidak boleh dikorbankan demi puasa yang dipaksakan.”
Beliau menutup dengan pesan agar setiap pasien tetap melakukan kontrol rutin ke dokter bedah masing-masing untuk memastikan luka operasi dalam kondisi baik sebelum memutuskan berpuasa penuh.
“Jangan memaksakan diri jika merasa lemas atau pusing yang hebat. Jika muncul tanda dehidrasi atau nyeri luar biasa, sebaiknya puasa segera dibatalkan untuk menghindari komplikasi,” tutupnya.
