SMARTPEKANBARU.COM- Di era modern yang didominasi oleh gratifikasi instan, pola hidup masyarakat cenderung terbentuk untuk mendapatkan segala sesuatu dalam hitungan detik. Fenomena ini tanpa disadari memengaruhi cara kerja otak yang terbiasa dengan pemuasan keinginan secara cepat. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSUP Surakarta, dr. Indah Puji Handayani, Sp.KJ, M.Gizi, menilai bahwa ibadah puasa merupakan momentum krusial untuk melatih ulang kontrol diri dan kesadaran penuh (mindfulness) di tengah derasnya paparan budaya instant reward.
Secara konseptual, mindfulness adalah sebuah sikap mental untuk terhubung sepenuhnya dengan kondisi saat ini atau present moment. Saat menjalankan puasa, seseorang diajak untuk memberikan perhatian penuh pada sensasi fisik maupun emosional yang dialami, seperti rasa lapar dan haus, tanpa memberikan penghakiman negatif. Melalui teknik body scanning atau menyadari napas, individu belajar untuk mengobservasi kondisi tubuhnya secara sadar, sehingga munculnya rasa lapar tidak lagi direspons secara impulsif, melainkan diproses sebagai sebuah pengalaman sensorik yang wajar.
Secara biologis, proses kesadaran tersebut melibatkan aktivitas pada bagian otak yang disebut prefrontal cortex, yakni pusat pengambilan keputusan dan kendali diri. Dengan menunda respons untuk segera makan atau minum, otak diberikan ruang waktu untuk mempertimbangkan berbagai pilihan sebelum bertindak. Latihan ini secara konsisten akan meningkatkan fleksibilitas kognitif seseorang, sehingga individu tidak lagi mudah bereaksi secara emosional terhadap stimulan luar, melainkan mampu memilih tindakan yang lebih bijaksana dan adaptif.
Lebih lanjut, dr. Indah menyoroti pentingnya puasa dalam melakukan “reset” terhadap sistem dopamine di otak yang sering kali terpapar kepuasan cepat melalui teknologi dan gaya hidup modern. Paparan kesenangan instan yang berlebihan dapat mengganggu sensitivitas dopamine dan memicu perilaku kompulsif hingga adiktif. Puasa menghadirkan mekanisme sebaliknya, di mana kepuasan sengaja ditunda (delayed gratification), sehingga sistem reward di otak kembali seimbang dan fungsi kontrol diri menjadi jauh lebih kuat.
Dampak dari penguatan kontrol diri ini sangat signifikan terhadap stabilitas emosional dan kualitas relasi sosial seseorang. Dengan terlatihnya kemampuan menunda reaksi, respons yang biasanya bersifat meledak-ledak atau impulsif dapat diredam karena telah melalui proses berpikir yang matang di otak. Seseorang yang memiliki kendali diri yang baik cenderung lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya serta lebih bijak dalam menghadapi berbagai konflik maupun tekanan hidup.
Sebagai kesimpulan, puasa bukan sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga secara fisik, melainkan sebuah latihan mental alami untuk memperkuat fungsi berpikir manusia. Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, puasa menyediakan ruang bagi individu untuk memperlambat tempo kehidupan, menyadari setiap sensasi yang muncul, dan membangun ketahanan mental yang lebih kokoh. Praktik ini menjadi solusi kesehatan jiwa yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan psikologis di era digital saat ini.
Sumber : Tribun
