Kemarin, rekor MURI sempat sedikit “merepotkan umat Republik Indonesia”.
Namun jujur, tetap ada manfaat dan gunanya, walau rasanya seperti permen karet: segar sejenak, lalu “mak pyar”… menguap.
Rekor Museum Rekor Indonesia ini memang bisa menaikkan eksistensi sekaligus ego pemerintah. Pemimpinnya—entah gubernur, wali kota, atau bupati—bisa berkata, “Di masa saya, daerah ini masuk sejarah MURI.”
Untuk kampanye lima tahun ke depan, ini tentu menjadi amunisi. Sertifikat MURI sama dengan foto besar ditambah headline: “Ini Sang Pemecah Rekor.”
Di sisi lain, kita ambil contoh rekor MURI kue talam terpanjang 1 km di Pekanbaru. Kegiatan ini juga berdampak pada UMKM dan pelaku usaha durian. Mereka ketiban rezeki nomplok. Petani durian, pembuat talam, hingga tukang kupas durian ikut merasakan cuan selama sepekan. Tenda, banner, hingga MC pun kebagian.
Pekanbaru masuk televisi, menjadi trending. Lumayan. Orang Jakarta dan kota lain jadi tahu, “Oh, Pekanbaru ada duriannya.” Pariwisata memang tidak langsung terdongkrak, tetapi setidaknya nama kota disebut.
Rasa persatuan pun sempat terjalin, meski hanya belasan menit. Warga selfie bersama, berebut talam, memotong talam bersama. Sejenak lupa soal antrean BBM. Efeknya seperti menonton dangdut atau konser gratis.
Namun, jangan dilupakan efek sampingnya. Ada sisi “kontraproduktif kuadrat” di dalamnya. Nah, ini bagian pedasnya:
- Macet + BBM Langka = Kombo Maut
Pagi-pagi masyarakat sudah kesulitan mencari Pertalite. Jalan utama justru ditutup untuk gelaran talam 1 km. Truk sayur, ojek online, angkutan umum, hingga ambulans terdampak. Rakyat diminta “bahagia”, tetapi bensin tidak tersedia. Ibarat dipaksa tersenyum sambil menahan kebutuhan. - Pemborosan Anggaran
Talam durian sepanjang 1 km bisa menghabiskan ratusan juta rupiah, apalagi saat harga durian sedang tinggi. Dana sebesar itu seharusnya bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak, seperti tambahan pasokan BBM atau perbaikan jalan rusak. Namun, perbaikan jalan tidak menghasilkan piala MURI, sementara gelaran talam mendapatkannya. - Pesan yang Salah ke Publik
Di tengah krisis BBM dan tekanan ekonomi, pemerintah justru terlihat menggelar “pesta kue”. Kesan yang muncul: anggaran tersedia, tetapi digunakan untuk kegiatan seremonial. Hal ini berpotensi mengikis kepercayaan publik.
Lalu, prestasi seperti apa yang sebaiknya diraih?
Jika ingin mencetak rekor, buatlah yang manfaatnya masih terasa lima tahun ke depan:
- Rekor “Desa Bebas Stunting Tercepat”
Penurunan angka stunting hingga 20% dalam satu tahun. Ini adalah prestasi yang berdampak langsung pada kesehatan generasi masa depan. - Rekor “SPBU Tanpa Antrean Terlama”
Selama 30 hari berturut-turut, tidak ada antrean BBM lebih dari 15 menit. Ini adalah rekor yang benar-benar dirasakan masyarakat. - Rekor “Pasar Murah Terluas dan Terlama”
Seribu titik pasar murah berjalan selama tiga bulan nonstop saat harga BBM naik. Dampaknya langsung pada daya beli masyarakat. - Rekor “Sungai Siak Terbersih”
Satu kilometer sungai bebas sampah plastik. Ini menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang.
Rumus prestasi cerdas adalah: menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah.
MURI talam durian berarti: “Kita punya durian banyak.”
MURI nol antrean BBM berarti: “Kita mampu mengurus kebutuhan rakyat.”
MURI Sungai Siak bersih berarti: “Kita peduli dan mampu menjaga lingkungan.”
Jadi, jika ditanya: lebih memilih berebut dan memotong talam 1 km, atau antre BBM hanya lima menit? Saya memilih yang kedua. Perut kenyang tidak seharusnya dibayar dengan kemacetan dan stres.

Penulis : Rhr. Dodi Sarjana (Pakar Komunikasi)
