Skip to content
RADIO SMART PEKANBARU

RADIO SMART PEKANBARU

Kanal Bisnis & Inspirasi

  • News Update
  • Business Today
  • Live Talkshow
  • Ordinary News
  • Advertorial
  • Streaming
  • Info Pajak
  • Haloawalbros
  • Toggle search form
  • KPU Siak Bersiap Hadapi Gugatan Sugianto, Pilkada Telah Menelan Uang Rakyat Puluhan Miliar Ordinary News
  • Tanggapan Resmi TNI, Polri, DPR, dan Pemerintah atas Tuntutan 17+8 dari Masyarakat Government
  • Yusril: Kasus Ongen Bermuatan Politik, Layak Dapat Amnesti dari Prabowo Government
  • Warga Asia Ingin Pensiun Layak, Bukan Sekadar Umur Panjang Economy
  • Strategi Harga Terjangkau, UMKM Teh Tarik Kelana Pekanbaru Kini Punya 5 Cabang Business Today

Demam Padel: Antara FOMO dan Kebiasaan Sehat yang Sedang Hits

Posted on 11 Agustus 202511 Agustus 2025 By Anisa

SMARTPEKANBARU.COM- Di masa pandemi Covid-19, bersepeda dan lari menjelma dari sekadar aktivitas olahraga menjadi ajang pamer eksistensi di media sosial. Kini, panggungnya berganti. Lapangan berpagar kaca, dan raket mungil jadi ikon baru di Instagram, pertanda padel, olahraga yang memadukan tenis dan squash, tengah merebut sorotan. Tren olahraga di masyarakat ternyata tak jauh berbeda dengan tren fesyen. Ada masa di mana satu jenis olahraga jadi primadona, lalu perlahan meredup dan digantikan oleh yang lain. Pergeseran tren ini, menurut sosiolog, Nia Elvina, S.Sos., M.Si., merupakan bagian dari siklus perubahan sosial yang berlangsung secara alami. Ia menilai pergeseran ini adalah bagian dari pola yang berulang dalam masyarakat. “Perubahan itu ada yang berlangsung secara siklikal (siklus). Pada periode tertentu olahraga yang trending akan berbeda dengan sebelumnya, dan dalam beberapa tahun atau dekade, tren yang sama bisa muncul kembali,” kata Nia kepada Kompas.com, Sabtu (9/8/2025).

Menurut Nia, pergeseran tren dari sepeda ke padel tak hanya soal preferensi olahraga, tapi juga cerminan sifat masyarakat Indonesia yang mudah terbawa arus tren. “Pelaku tren biasanya kelas menengah ke bawah. Mereka lebih mudah terpengaruh karena melihat fenomena hanya dari permukaan, bukan maknanya,” jelasnya.

Ikut tren padel demi gengsi

Padel tergolong olahraga mahal. Harga raketnya bisa mencapai jutaan rupiah, belum lagi biaya sewa lapangan. Meski demikian, banyak orang rela mengeluarkan uang demi terlibat dalam tren ini. Nia menyebut,  adanya tren baru memang kerap dipicu rasa FOMO (fear of missing out), terutama di kalangan masyarakat yang mudah terbawa arus.

Fenomena ini sejalan dengan temuan beberapa kajian ekonomi: masyarakat kelas menengah ke bawah kerap mengambil pinjaman, baik online maupun offline, untuk memenuhi gaya hidup.

“Secara sosiologis, ini dilakukan untuk meningkatkan prestise (wibawa) di mata orang lain,” katanya. Bagi sebagian orang, mengikuti tren olahraga seperti padel bukan semata-mata soal kesehatan, tetapi juga sebagai penanda status sosial, layaknya memiliki sepeda premium di masa pandemi.

Kebutuhan atau hanya FOMO?

Pengamat sosial, Devie Rahmawati, menilai FOMO bukan selalu hal buruk.

“FOMO itu seperti api, bisa menghangatkan, bisa juga membakar. Kalau diarahkan ke hal positif, misalnya mengejar informasi penting atau peluang belajar, ia bisa jadi bahan bakar motivasi,” kata Devie. Ia menambahkan, penelitian menunjukkan bahwa pada mahasiswa, rasa takut tertinggal justru mendorong mereka lebih aktif mencari informasi dan terlibat dalam kegiatan produktif.

“Masalah muncul ketika FOMO hanya diarahkan untuk membandingkan diri atau konsumsi konten tanpa tujuan. Di situlah ia berubah menjadi beban psikologis,” ujarnya.

Devie menegaskan, kuncinya bukan mematikan FOMO, tetapi mengelolanya agar menjadi pemicu pertumbuhan, bukan sumber stres. Dalam hal olahraga, meningkatnya minat pada padel juga membawa dampak positif, karena mendorong lebih banyak orang untuk aktif bergerak, mencoba hal baru, dan membangun kebiasaan sehat.

Tidak akan bertahan lama

Meski padel tengah naik daun, Nia memperkirakan tren ini tak akan bertahan lama. Seperti tren lainnya, padel akan meredup dan digantikan oleh yang baru. Bagi Nia, yang terpenting adalah sikap kritis masyarakat. “Kalau memang kita membutuhkan olahraga padel untuk kesehatan, dan biayanya sesuai kemampuan, itu berarti kita bertindak sesuai esensi. Tapi kalau hanya ikut-ikutan supaya terlihat keren, kita mudah terjebak dalam pola konsumsi yang merugikan,” pesannya

Mengelola hasrat ikut tren

Pergeseran tren olahraga, misal dari sepeda ke padel, menggambarkan dua hal sekaligus: budaya ikut-ikutan yang kuat, dan peran FOMO dalam memengaruhi pilihan gaya hidup

FOMO yang dikelola dengan baik bisa menjadi motivasi untuk mencoba hal baru yang bermanfaat. Namun, tanpa kontrol, ia bisa mendorong perilaku konsumtif yang menguras kantong dan meninggalkan penyesalan. Mungkin saat ini padel sedang menjadi simbol gaya hidup baru. Tapi pada akhirnya, olahraga apa pun akan lebih berarti jika dijalani karena kebutuhan dan kesenangan pribadi, bukan semata demi mengikuti arus tren.

Sumber : Kompas.com

Lifestyle

Navigasi pos

Previous Post: Tokoh Pemuda Kari Nahkodai DPC Perindo Kuansing, Siap Hadapi Pemilu 2029
Next Post: Rakernas NasDem: MK Melampaui Batas Kewenangan dalam Putusan Pemilu Terpisah

Related Posts

  • 40 Persen Anak Usia 2-5 Tahun Kecanduan Gadget, Belajar Lewat Animasi Bisa Jadi Aktivitas Seru Lifestyle
  • Tips Bagi Introvert agar Punya Hubungan Sosial yang Menyehatkan Lifestyle
  • 6 Cara Menghilangkan Bau Ketiak Menurut Dokter, Jaga Skin Barrier Lifestyle
  • Soft Skill yang Dibutuhkan Gen Z dalam Persaingan Kerja yang Sulit Lifestyle
  • Merangkai Pesona Danau Toba dan Mandalika Lewat Karya Busana  Lifestyle
  • Memutus Rantai Kekerasan dalam Asmara, Strategi Psikiater dalam Membangun Ketahanan Emosional Generasi Muda Health

LIVE ON AIR

Breaking News
  • Karmila Sari Ajak Masyarakat Manfaatkan Beasiswa KIP Kuliah di STIKes Tengku Maharatu
  • DPRD Riau Tindaklanjuti Keluhan Warga Terkait Dampak Lingkungan Galian C
  • Komisi I DPRD Riau Angkat Isu Tanah BMN ke Plt Gubernur, Warga Minta Haknya Dipastikan

KONTAK KAMI :

RADIO SMART PEKANBARU

Jalan Imam Munandar (Harapan Raya) No. 383, Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukitraya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. 28282

 

Email: officialsmartpku@gmail.com
Marketing : 0857 1111 8188
Program : 0811 757 1018

  • RAPBD Riau Triwulan II Catat Pertumbuhan Positif Business Today
  • Studi: Puasa Intermittent 8 Jam Lebih Ampuh dari Diet Ketat, Berat Badan Turun dan Bertahan Setahun Health
  • KG Cup 2025 diikuti ratusan karyawan Kompas Gramedia Ordinary News
  • UPDATE Demo 1 September di Riau : Beberapa Sekolah Belajar Daring, Lalin Depan DPRD Riau Dialihkan News Update
  • Inspektorat Kampar Bidik SDN 021 Tarai Bangun yang Viral, Panggil Disdikpora Soal Dugaan Pungutan Government
  • Percayakan Layanan Digital kepada Telkom Indonesia, Dirjen Bina Marga PUPR PJN Batam Perpanjang Kontrak 2025 Ordinary News
  • AM Witel Riau Lakukan Survei Teknis sebagai Tahap Pra-Penjualan Layanan Astinet dan SIP Trunk di PT Martindo Asia Pratama Ordinary News
  • Harga Gula Dijaga Rp14.500 per Kg, Pemerintah Siapkan Rp 1,5 Triliun Economy

Copyright ©052024 by @brodan

Powered by PressBook News WordPress theme