SMARTPEKANBARU.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok juga perlahan mengalami kenaikan. Kombinasi dua kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman serius, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang memiliki daya tahan ekonomi terbatas.
Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menilai situasi yang terjadi saat ini merupakan bentuk inflasi dorongan biaya atau cost-push inflation. Dalam kondisi tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya impor berbagai kebutuhan meningkat. Akibatnya, harga barang di dalam negeri ikut terdorong naik karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada produk impor.
Menurut Dahlan, berbagai sektor saat ini mulai merasakan dampak dari penguatan dolar Amerika Serikat. Barang-barang seperti pupuk, pakan ternak, obat-obatan, hingga bahan baku industri mengalami kenaikan harga karena harus dibeli menggunakan dolar yang nilainya semakin tinggi terhadap rupiah. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat dan pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual kepada masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga yang mulai dirasakan masyarakat sebenarnya merupakan efek berantai dari melemahnya rupiah. Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan dan pelaku usaha akan berusaha menjaga operasional tetap berjalan dengan menaikkan harga barang atau jasa. Jika langkah itu tidak dilakukan, maka keberlangsungan usaha mereka bisa terganggu.
Situasi ekonomi saat ini dinilai lebih berat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sebab, tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi dalam negeri, tetapi juga situasi global yang belum stabil. Konflik geopolitik di sejumlah kawasan, kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju, hingga ketidakpastian ekonomi dunia menjadi faktor yang memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam teori Purchasing Power Parity atau paritas daya beli, pelemahan rupiah menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat untuk membeli barang semakin menurun. Uang yang sebelumnya mampu memenuhi banyak kebutuhan kini terasa semakin kecil nilainya. Dampaknya paling terasa pada kebutuhan pokok sehari-hari yang terus mengalami kenaikan harga.
Kelompok masyarakat kecil disebut menjadi pihak yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut. Rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan harus mengalokasikan sebagian besar pendapatan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketika harga pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga naik secara bersamaan, ruang keuangan masyarakat menjadi semakin sempit.
Masyarakat pedesaan juga diperkirakan ikut terkena dampak cukup besar. Selain daya beli yang menurun, sebagian masyarakat di daerah masih bergantung pada sektor usaha kecil dan pertanian yang rentan terhadap kenaikan harga pupuk maupun bahan produksi lainnya. Jika situasi berlangsung dalam waktu lama, tekanan ekonomi dapat semakin meluas hingga memengaruhi stabilitas sosial masyarakat.
Dahlan juga mengingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak hanya berhenti pada naiknya harga kebutuhan pokok. Industri-industri yang masih bergantung pada bahan baku impor berpotensi mengalami tekanan besar. Ketika biaya produksi terus meningkat sementara daya beli masyarakat menurun, perusahaan bisa mengalami penurunan keuntungan hingga kesulitan menjaga kestabilan usaha.
Dalam kondisi yang lebih buruk, ancaman pengurangan tenaga kerja hingga pemutusan hubungan kerja atau PHK dapat terjadi. Hal itu disebabkan perusahaan harus melakukan efisiensi agar tetap bertahan di tengah biaya produksi yang terus membengkak. Jika banyak sektor industri mengalami tekanan serupa, dampaknya dapat meluas terhadap kondisi ekonomi daerah maupun nasional.
Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya menjadi penonton dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini. Menurut Dahlan, pemerintah perlu mengambil langkah cepat dan konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terus melemah.
Selain menjaga stabilitas kurs, pemerintah juga diminta memastikan program bantuan sosial benar-benar tepat sasaran. Bantuan kepada masyarakat kecil dinilai sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Perlindungan sosial tidak cukup hanya menjadi program administratif, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan.
Di sisi lain, pelaku usaha juga didorong untuk mulai melakukan efisiensi dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor. Penggunaan bahan baku lokal dianggap menjadi salah satu langkah penting agar dunia usaha tidak terlalu rentan terhadap gejolak nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Sementara bagi masyarakat, kondisi ekonomi saat ini menjadi pengingat untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran rumah tangga. Kebiasaan konsumtif dan penggunaan utang untuk kebutuhan yang tidak mendesak sebaiknya mulai dikurangi. Fokus utama masyarakat saat ini dinilai perlu diarahkan pada upaya menjaga ketahanan ekonomi keluarga agar tetap mampu menghadapi situasi yang belum stabil.
Dahlan menilai bahwa kondisi ekonomi pada dasarnya selalu bergerak dinamis. Ada masa ketika ekonomi mengalami tekanan, namun ada pula masa pemulihan dan pertumbuhan. Karena itu, semua pihak diminta tetap tenang dan tidak panik menghadapi situasi yang sedang berlangsung. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama menjaga stabilitas ekonomi agar tekanan akibat pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Sumber: Tribun Pekanbaru
