SMARTPEKANBARU.COM – Irama jantung yang tidak teratur atau fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF) merupakan salah satu gangguan jantung yang dapat meningkatkan risiko stroke iskemik secara signifikan.
Peringatan ini disampaikan oleh dr. Zicky Yombana Babeheer, SpN, AIFO-K, DAI FIDN, CPS, neurolog dari RS Brawijaya Saharjo dan Mayapada Kuningan, dalam sesi edukasi kesehatan yang membahas cara kerja jantung serta dampak gangguan irama terhadap sirkulasi darah.
Menurut dr. Zicky, jantung normal seharusnya memompa darah secara teratur dari bilik ke serambi, lalu mengalirkannya ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Namun pada penderita fibrilasi atrium, detak jantung menjadi tidak teratur dan bergetar sehingga aliran darah tidak lagi optimal.
“Harusnya pompa jantung itu satu detak jelas — jebret. Tapi pada fibrilasi, detaknya bergetar dan tidak terkoordinasi. Akibatnya, darah tidak mengalir lancar dan bisa menggumpal,” jelasnya di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Untuk memudahkan pemahaman, Zicky memberi ilustrasi sederhana.
“Bayangkan kita keluar dari satu pintu secara bergantian, semua lancar. Tapi kalau berebut, pasti ada yang jatuh. Begitu juga dengan jantung. Kalau iramanya tidak teratur, aliran darah jadi kacau dan bisa membentuk gumpalan,” ujar dr Zicky.
Gumpalan darah tersebut bisa berpindah ke otak dan menyebabkan stroke iskemik, yaitu jenis stroke yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak.
Selain aritmia, Zicky menekankan pentingnya pemeriksaan tekanan darah (tensi) yang dilakukan secara benar untuk memastikan hasil yang akurat.
“Jangan ukur tekanan darah setelah marah, baru olahraga, atau saat terburu-buru. Itu tidak valid,” tegasnya.
Ia menyarankan pengukuran dilakukan dua kali dalam kondisi tubuh tenang, karena baik tekanan darah tinggi maupun rendah sama-sama perlu diwaspadai jika hasilnya tidak normal secara berulang.
Dalam penanganan fibrilasi atrium, pasien umumnya diberikan obat pengencer darah guna mencegah pembentukan gumpalan darah. Namun, masih banyak pasien yang menghentikan konsumsi obat tanpa konsultasi dokter.
“Banyak pasien berhenti karena bosan atau takut efek samping. Padahal, kalau obat dihentikan, risiko stroke bisa melonjak,” tegas dr. Zicky.
Ia menekankan bahwa fibrilasi atrium sering kali tidak disadari penderitanya karena gejalanya bisa sangat ringan.
“Atrial fibrilasi bisa meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Dengan pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah, masyarakat dapat mendeteksi perubahan tekanan atau irama jantung lebih awal sebelum komplikasi serius muncul,” jelasnya.
Kisah Nyata: Stroke di Usia 19 Tahun
Menyoroti pentingnya deteksi dini, Asep Aji Fatahilah, pendiri Komunitas KDS Penyintas Stroke berbagi pengalamannya terkena stroke di usia muda.
“Saya tidak pernah menyangka akan mengalami stroke di usia 19 tahun. Saat itu saya merasa sehat dan tidak punya riwayat tekanan darah tinggi,” ujarnya.
Setelah diperiksa, tekanan darahnya mencapai lebih dari 200 mmHg.
“Saya sempat menyepelekan hasil itu, dan tak lama kemudian, serangan stroke pertama terjadi. Itu jadi titik balik hidup saya,” katanya.
Kini, Asep rutin memeriksa tekanan darah di rumah dan menjaga pola hidup sehat mencegah kekambuhan.
Menutup sesi edukasi, dr. Zicky mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung
“Kenali irama jantung Anda, pantau tekanan darah secara rutin, dan jangan abaikan gejalanya. Dengan deteksi dini dan kepatuhan pengobatan, risiko stroke akibat fibrilasi atrium bisa ditekan secara signifikan,” katanya.
Sumber : Tribunnews.com
