SMARTPEKANBARU.COM – Keberadaan pohon tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi memiliki peran langsung terhadap kesehatan manusia.
Dari sudut pandang medis dan kesehatan masyarakat, pohon disebut sebagai bentuk intervensi kesehatan publik yang alami dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan dokter sekaligus ahli kesehatan lingkungan dan epidemiolog Dicky Budiman.
Ia mengatakan pohon hijau, terutama yang rimbun dan beragam, berkontribusi nyata dalam menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.
Mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit jantung.
“Pohon bukan sekadar simbol lingkungan tapi juga intervensi kesehatan publik yang natural, alami,” kata Dicky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/12/2025).
Sebaliknya, kebijakan pembangunan yang mengabaikan tutupan hijau dinilai membawa dampak serius bagi kesehatan publik.
Deforestasi menyebabkan kualitas udara memburuk, suhu lingkungan meningkat, serta risiko penyakit paru dan jantung melonjak.
Selain itu, peningkatan suhu ekstrem berpotensi memicu heat stroke dan kematian mendadak saat beraktivitas fisik.
Dampak lain yang tak kalah nyata adalah meningkatnya risiko bencana banjir dan longsor yang memicu trauma fisik, krisis kesehatan mental, hingga wabah penyakit seperti ISPA di lokasi pengungsian.
Dalam jangka panjang, hilangnya hutan dan pohon berkontribusi pada peningkatan penyakit tidak menular, gangguan kesehatan ibu dan anak akibat polusi, hingga melonjaknya beban biaya kesehatan nasional dan daerah.
“Jadi deforestasi itu seperti merokok pasif berskala nasional,” ucapnya.
Ia menyoroti adanya paradoks dalam kebijakan kesehatan saat ini.
Di satu sisi, sistem kesehatan fokus mengobati penyakit, namun di sisi lain membiarkan penyebab ekologis penyakit terus terjadi.
Kota didorong untuk warganya berolahraga, tetapi udara yang dihirup justru beracun.
Masyarakat diobati hipertensinya, namun ruang hijau semakin menyempit.
Menurutnya, kondisi ini harus segera dihentikan dengan menempatkan perlindungan pohon dan tutupan hijau sebagai bagian integral dari kebijakan kesehatan publik, bukan sekadar isu lingkungan semata.
Berikut fungsi pohon bagi kesehatan manusia:
1. Lindungi Paru dari Polusi Berbahaya
Dalam konteks kesehatan paru, pohon berfungsi sebagai penyaring alami polutan udara.
Daun dan tajuk pohon mampu menurunkan paparan partikel berbahaya seperti PM2.5, nitrogen dioksida (NO2), dan ozon yang banyak ditemukan di wilayah perkotaan.
Paparan jangka panjang terhadap polutan tersebut telah terbukti meningkatkan risiko asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga kanker paru.
Lingkungan hijau membantu menurunkan beban kerja paru-paru serta mengurangi peradangan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
2. Menurunkan Risiko Penyakit Jantung dan Heat Stres
Manfaat pohon juga sangat signifikan bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Polusi udara diketahui memicu stres oksidatif dan peradangan sistemik yang berujung pada hipertensi, aterosklerosis, hingga serangan jantung.
Keberadaan pohon menurunkan suhu lingkungan, sehingga berdampak langsung pada penurunan denyut jantung, tekanan darah, dan risiko heat stress.
Kondisi ini sangat penting di tengah meningkatnya suhu udara akibat perubahan iklim, terutama di kawasan perkotaan padat.
3. Dorong Aktivitas Fisik dan Jaga Kesehatan Mental
Ruang hijau yang ditumbuhi pohon juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak.
Orang cenderung lebih mau berjalan kaki, jogging, atau berolahraga di lingkungan yang sejuk dan rindang.
Aktivitas fisik yang konsisten merupakan salah satu cara paling efektif mencegah penyakit jantung, diabetes, dan obesitas.
Dalam hal ini, pohon berperan sebagai fasilitator gaya hidup sehat.
Tak kalah penting, paparan alam terbukti menurunkan kadar kortisol, hormon stres.
Stres kronis sendiri merupakan faktor risiko penyakit jantung dan gangguan sistem imun, khususnya bagi masyarakat yang hidup di wilayah perkotaan dengan tekanan tinggi.
“Artinya menanam pohon sama dengan menanam oksigen. Investasi oksigen menurunkan tekanan darah, memperpanjangkan harapan hidup,” jelasnya.
Sumber : Tribunnews.com
