SMARTPEKANBARU.COM – Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merusak rumah serta memutus akses transportasi dan merenggut ratusan nyawa.
Namun, ada situasi lain yang juga mengancam. Yaitu penyintas bencana yang kini kesulitan mendapatkan air bersih.
Ahli epidemiologi dan kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, menegaskan bahwa tubuh manusia memiliki batas ketahanan sangat pendek tanpa akses air minum layak, sebuah kondisi yang kini terjadi di banyak titik pengungsian di tiga provinsi tersebut.
Dicky menilai bahwa isu krusial pascabencana adalah kemampuan penyintas bertahan tanpa bantuan, khususnya air bersih.
“Secara medis rata-rata literatur mengatakan manusia itu hanya bertahan 3 hari tanpa air minum. Pada kondisi panas, apalagi diare atau luka terbuka itu bisa hanya 1 sampai 2 hari,” ujarnya pada Tribunnews, Selasa (9/12/2025).
Di lokasi banjir Aceh, Sumut, Sumbar, akses air bersih terputus akibat sumur terendam, pipa rusak, serta kontaminasi kotoran dan sampah banjir.
Kondisi itu sangat berbahaya, terutama bagi pengungsi yang mengalami luka atau infeksi kulit akibat paparan air kotor.
Risiko Meninggal Lebih Cepat Pada Kelompok Rentan
Dicky menyebut bayi, balita, ibu hamil dan menyusui, lansia, serta orang dengan komorbid sebagai kelompok dengan risiko kematian paling cepat.
“Pada kelompok rentan ini tanpa bantuan itu bisa meninggal dalam 1 atau 3 hari saja,” tegasnya.
Di posko pengungsian, kelompok rentan ini kerap mengalami dehidrasi karena keterbatasan cairan, keterlambatan pemeriksaan kesehatan, dan kebutuhan nutrisi yang lebih tinggi.
Bencana Banjir Kurangi Kemampuan Tubuh Bertahan
Secara teoritis, manusia dewasa sehat mampu bertahan lebih lama tanpa makanan.
Namun pada korban banjir, stres berat, cuaca ekstrem, dan infeksi memperpendek durasi itu secara signifikan.
Perubahan suhu malam–siang di tenda pengungsian, paparan angin lembap, serta kondisi sanitasi buruk membuat penyintas lebih cepat jatuh sakit.

Tanpa Air Bersih, Kematian Bisa Meningkat Tajam
Dalam pengalaman penanganan banjir besar, angka kematian dapat melonjak dalam 3–7 hari pertama ketika air bersih, makanan, dan layanan kesehatan tidak tersedia.
Dicky mengingatkan bahwa asumsi korban bisa bertahan lama tanpa bantuan adalah kesalahan fatal.
Situasi Aceh, Sumut, Sumbar saat ini, dengan infrastruktur rusak dan distribusi logistik yang terhambat, menurutnya harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan tim respons cepat.
Dicky menekankan bahwa air bersihharus menjadi prioritas tertinggi.
Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah membuka jalur darurat distribusi air minum, memberikan kontainer air bersih, serta memastikan tandon di titik pengungsian selalu terisi.
Ia menilai bahwa keterlambatan menyediakan air bersih pada bencana seperti banjir Aceh,Sumut, Sumbar dapat berujung pada kematian yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Sumber : Tribunnews.com
