SMARTPEKANBARU.COM – Bencana banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Pulau Sumatra makin memperparah kondisi anak-anak yang mengalami stunting.
Terhentinya layanan kesehatan, keterbatasan air bersih, buruknya sanitasi lingkungan, serta minimnya akses terhadap makanan bergizi menjadi dampak serius yang dirasakan para korban bencana alam yang terjadi pada akhir November di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh Dr Sulasmi mengatakan, ada 13 anak di desa Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah yang mengalami stunting.
Hampir satu bulan pascabencana, anak-anak tersebut belum mendapatkan bantuan yang memadai.
“Sebelum bencana, tercatat ada 13 anak di desa Toweren, Aceh Tengah yang mengalami stunting. Mereka belum dapat bantuan karena medan yang sulit,” kata dia dalam webinar via daring di kantor IDAI, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2023).
Ia menjelaskan, akses yang berat membuat distribusi bantuan logistik dan layanan kesehatan terhambat.
Bahkan hingga hari ke-28 pascabencana, bahan pangan pokok masih sulit diperoleh masyarakat.
“Sembako sangat sulit didapat, kami belum bisa melakukan intervensi gizi (untuk anak-anak),” ungkap dia.
Ia mengatakan, tim IDAI bersama masyarakat dan tim gizi daerah sebenarnya telah berupaya menyiapkan makanan tambahan bergizi bagi anak-anak korban bencana.
Namun upaya tersebut terkendala akses jalan yang rusak dan sulit dilalui, serta keterbatasan jaringan komunikasi.
“Kami sudah berusaha menyalurkan makanan bergizi kepada anak-anak korban bencana. Namun akses ke lokasi benar-benar sulit. Internet pun baru bisa diakses beberapa waktu terakhir,” jelasnya.
Ditegaskan ketua IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso, stunting bukan kondisi yang terjadi dalam waktu singkat, melainkan akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama.
Oleh karena itu, penanganan pascabencana harus tetap memperhatikan kebutuhan gizi jangka panjang anak-anak.
“Stunting tidak mungkin terjadi hanya dalam satu bulan. Tetapi kondisi pascabencana bisa memperberat kondisi anak yang sudah stunting. Karena itu, bantuan harus berfokus pada pemenuhan gizi keluarga dan anak-anak,” tegas dr Piprim .
IDAI juga mendorong agar bantuan tidak hanya terfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga dialihkan untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama pangan bergizi bagi anak-anak dan kelompok rentan.
“Yang penting saat ini adalah memastikan makanan bergizi bisa sampai ke masyarakat. Itu yang paling dibutuhkan agar kondisi anak-anak tidak semakin memburuk,” harap dia.
Dokter Piprim menyadari, saat darurat awal, kondisi di lapangan tidak ideal untuk bisa menyediakan makanan bergizi.
Jika tidak tersedia pilihan lain selain makanan instan maka pemberian mi instan diperbolehkan sebatas untuk bertahan hidup (survival).
Lebih dari tiga hari, anak-anak harus konsumsi asupan gizi seimbang yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat.
Dalam kondisi darurat, IDAI juga memberikan rekomendasi jenis makanan yang dapat digunakan sebagai alternatif sumber gizi.
Penggunaan makanan awetan dengan teknologi retort, yaitu makanan yang dikemas vakum dan disterilisasi tanpa bahan kimia.
Jenis makanan ini dapat mengandung protein hewani, karbohidrat, dan lemak yang cukup, serta siap santap tanpa proses pengolahan yang rumit.
Contohnya termasuk makanan seperti rendang atau olahan lain yang awet namun tetap memiliki nilai gizi tinggi.
“Kalau belum ada yang baiknya diawetkan teknologi retort. Lengkap gizinya, bisa siap santap tanpa proses yang lebih ribet,” jelas dia.
Selain itu juga bisa membangun dapur khusus untuk pembuatan MPASI atau makanan pendamping ASI.
Sumber : Tribunnews.com
