SMARTPEKANBARU.COM – Upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak dapat dimulai dari rumah melalui edukasi kesehatan yang sederhana dan sesuai usia.
Salah satu fondasi pentingnya adalah mengenalkan konsep tubuh pribadi serta membedakan sentuhan yang aman dan tidak aman sejak anak berada di usia dini.
Penggagas Gerakan Kakak Aman Indonesia, Hana Maulida, menjelaskan bahwa edukasi tersebut ditujukan bagi anak usia TK hingga SD kelas 6.
Fokusnya bukan pada pembahasan seksualitas secara sempit, melainkan pada pemahaman anak tentang tubuhnya sendiri dan kemampuan bersikap saat berada dalam situasi yang tidak nyaman.
“Yang kami ajarkan sebenarnya sangat sederhana, yaitu konsep bagian tubuh pribadi. Dalam konsep kami, bagian tubuh pribadi adalah seluruh bagian yang tertutup baju renang ditambah mulut,” ujar Hana Maulida pada live streaming Beauty Health Tribun Health, Minggu (14/12/2025).
Swimsuit Rules untuk Mengenalkan Tubuh Pribadi Anak

Konsep yang digunakan Kakak Aman merujuk pada swimsuit rules, pendekatan yang juga diterapkan di berbagai negara.
Dalam konsep ini, bagian tubuh pribadi meliputi dada, perut, area genital, paha, bokong, serta mulut.
Materi disampaikan dengan metode yang ramah anak, seperti lagu dan gerakan, agar pesan lebih mudah dipahami.
Melalui pendekatan ini, anak dikenalkan pada batasan tubuh tanpa rasa takut atau tekanan.
Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi anak untuk mengenali sentuhan yang tidak aman.
Ketika terjadi sentuhan pada bagian tubuh pribadi yang membuat anak merasa tidak nyaman, anak perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan.
“Ketika bagian tubuh pribadi disentuh dan membuat anak tidak nyaman, mereka diajarkan untuk berani menolak, bilang tidak, menjauh, lalu bercerita kepada orang dewasa yang mereka percaya,” jelas Hana.
*Tantangan Budaya dan Pentingnya Keterampilan Menolak*
Hana menilai, salah satu tantangan utama edukasi kesehatan reproduksi anak adalah budaya yang masih menempatkan anak sebagai pihak yang harus selalu patuh kepada orang dewasa.
Dalam kondisi tersebut, anak sering kali kesulitan menolak meski berada dalam situasi yang berisiko, terlebih jika disertai bujukan atau tekanan dari orang yang dikenal.
Karena itu, edukasi ini diarahkan untuk membangun keterampilan dasar anak dalam mengenali batasan diri.
Anak diajak memahami bahwa tubuhnya berharga dan tidak semua orang boleh menyentuhnya, siapa pun latar belakangnya.
“Edukasi seksual bukan hanya bicara soal seks, tapi mengajarkan anak bahwa dirinya berharga dan ada bagian tubuh yang tidak boleh diakses siapa pun, termasuk orang terdekat,” kata Hana.
Membiasakan Edukasi Kesehatan Sejak Bayi
Menurut Hana, edukasi kesehatan terkait tubuh dapat dimulai sedini mungkin, bahkan sejak anak masih bayi.
Pembiasaan dilakukan melalui aktivitas sehari-hari, seperti meminta izin sebelum membersihkan tubuh anak saat mengganti popok.
Kebiasaan sederhana tersebut membantu anak memahami konsep persetujuan dan membangun kesadaran bahwa setiap sentuhan harus dilakukan dengan izin.
Seiring bertambahnya usia, orang tua juga dianjurkan menyebut bagian tubuh dengan istilah biologis yang tepat agar anak tidak bingung mengenali tubuhnya sendiri.
Mengajarkan Hak Anak atas Tubuhnya
Penerapan edukasi ini juga dapat dilakukan dalam interaksi sosial keluarga.
Saat anak menolak bersalaman atau dicium oleh kerabat, orang tua berperan penting untuk mendukung pilihan anak dan menawarkan alternatif yang tetap sopan, seperti tos atau melambaikan tangan.
Pendekatan tersebut memperkuat pesan bahwa anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri.
Dengan pembiasaan yang konsisten, anak diharapkan mampu mengenali situasi berisiko, memahami batasan tubuh, dan berani menyampaikan rasa tidak nyaman kepada orang dewasa tepercaya.
Melalui edukasi yang sederhana, terstruktur, dan sesuai tahap perkembangan, pengenalan tubuh pribadi menjadi langkah preventif penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental anak sejak dini.
Sumber : Tribunnews.com
