SMARTPEKANBARU.COM – Air hujan pada masa lalu kerap dianggap bersih dan aman, bahkan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, kondisi lingkungan yang berubah membuat anggapan tersebut kini perlu ditinjau ulang dari sisi kesehatan.
Dokter Spesialis Paru RS Hermina Solo, dr. Thifla Farhani Sp.P, menjelaskan bahwa kualitas air hujan saat ini tidak lagi sama seperti dahulu.
Paparan polusi udara, zat kimia, hingga mikroplastik membuat air hujan berisiko jika dikonsumsi langsung.
“Kalau menurut saya ya itu memang zaman dulu benar untuk air hujan itu bisa untuk diminum, namun di era yang seperti saat ini yang kandungan kimianya sudah banyak, mungkin saya menyarankan untuk air hujan tidak diminum,” ujar dr. Thifla pada live streaming Healthy Talk di Tribun Health, Minggu (14/12/2025).
Air Hujan Kini Melewati Banyak Paparan
Dr. Thifla menerangkan, air hujan yang turun ke bumi tidak datang dalam kondisi steril.
Sepanjang perjalanannya, air hujan melewati lapisan udara yang mengandung berbagai partikel, mulai dari debu, polusi, hingga mikroplastik yang tak kasat mata.
Selain mikroplastik, air hujan juga berpotensi membawa mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus.
Kondisi ini membuat air hujan tidak layak dikonsumsi secara langsung tanpa proses pengolahan yang memadai.
Pada anak-anak, konsumsi air yang tidak higienis berisiko memicu gangguan kesehatan, salah satunya diare.
Oleh karena itu, proses pemanasan hingga air mendidih tetap menjadi standar penting agar air aman dikonsumsi.
Tidak Disarankan untuk Diminum, Terutama Anak-anak
Menurut dr. Thifla, kehati-hatian perlu ditingkatkan, khususnya pada anak-anak yang sistem imunnya belum sekuat orang dewasa.
Kandungan yang tidak diketahui secara pasti dalam air hujan dapat memicu gangguan pencernaan maupun infeksi.
“Kalau saya tetap tidak menyarankan air hujan itu untuk diminum, apalagi untuk anak-anak, kasian kita nggak tahu kandungan air hujan,” katanya.
Anjuran tersebut menjadi relevan di tengah kondisi kualitas udara yang terus berubah dan tidak dapat dinilai hanya dengan penglihatan langsung.
Mandi Hujan Juga Perlu Diwaspadai
Selain diminum, kebiasaan mandi hujan juga dinilai perlu dihindari, terutama pada kondisi hujan deras atau terjadi pada malam hari.
Paparan air hujan yang mengandung mikroorganisme dan partikel polutan dikhawatirkan berdampak pada kesehatan kulit dan saluran pernapasan.
“Nggak usah mandi hujan, apalagi nanti pas hujan-hujan malam ke atas ini sebaiknya nggak dulu ya karena takutnya mengandung hal-hal atau mikroorganisme yang lainnya,” jelas dr. Thifla.
Paparan tersebut dinilai semakin berisiko seiring meningkatnya polusi udara yang kualitasnya tidak selalu dapat dipantau secara kasat mata.
Kondisi udara yang terpapar polusi turut memengaruhi kualitas air hujan yang turun.
Partikel di udara, termasuk mikroplastik dan zat kimia, dapat ikut terbawa bersama air hujan dan berpotensi berdampak pada kesehatan jika terjadi kontak langsung atau dikonsumsi.
Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk memilih sumber air bersih yang telah melalui proses pengolahan sesuai standar kesehatan, serta menghindari konsumsi air hujan secara langsung.
Kewaspadaan terhadap air hujan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan di tengah perubahan lingkungan dan meningkatnya paparan polutan di udara.
Sumber : Tribunnews.com
