SMARTPEKANBARU.COM – Para korban bencana banjir di beberapa wilayah Aceh, terpaksa mencuci pakaian dan peralatan lainnya menggunakan air sisa banjir karena krisis air bersih.
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menimbulkan kerusakan luas dan memaksa ribuan warga mengungsi, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit menular pascabanjir.
Hal ini disampaikan ahli epidemiologi sekaligus peneliti kesehatan masyarakat, Dicky Budiman.
Menurutnya, kondisi banjir di tiga provinsi tersebut membawa dampak kesehatan yang serius karena air yang menggenang hampir dipastikan tercemar berbagai jenis limbah dan patogen berbahaya.
Dicky menegaskan bahwa air banjir bukan hanya membawa lumpur, tetapi juga campuran kotoran manusia, kotoran hewan, limbah rumah tangga, hingga bangkai hewan.
Semua faktor ini dapat memicu penyakit dalam hitungan hari setelah banjir terjadi.
“Sekali lagi potensi penyakit yang paling berisiko dialami korban banjir ini, sekali lagi banjir bukan hanya membawa air tapi juga ada kotoran manusia, kotoran hewan, ada limbah rumah tangga, ada bangkai hewan, ada lumpur yang tercemar, ada bakteri, virus, parasit,” ujarnya pada Tribunnews, Kamis (11/12/2025).
Penyakit Saluran Cerna Jadi Ancaman Utama
Dalam catatannya, penyakit saluran cerna menjadi gangguan kesehatan paling sering muncul 3—14 hari pascabanjir.
Penyakit tersebut meliputi diare akut, tifoid, kolera, hingga hepatitis yang menular melalui air dan makanan tercemar.
Kelompok paling rentan adalah bayi, balita, ibu hamil, dan lansia karena berisiko tinggi mengalami dehidrasi berat.
Pada kondisi pengungsian yang terbatas akses air bersih maupun layanan kesehatan, risiko fatalitas meningkat signifikan.
Selain itu, leptospirosis juga menjadi penyakit yang perlu diantisipasi.
Penularannya terjadi melalui air banjir yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus, dan dapat masuk melalui luka kecil di kulit, mata, atau mulut.
Ispa, Penyakit Kulit, hingga Risiko Wabah DBD dan Malaria
Kondisi lembap yang berkepanjangan, paparan air kotor, serta minimnya fasilitas kebersihan turut memicu munculnya penyakit kulit seperti gatal, infeksi jamur, infeksi bakteri, hingga keluhan kulit bernanah.
Di pengungsian, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi ancaman lain akibat suhu dingin, ventilasi buruk, dan kepadatan penghuni.
Ketika banjir mulai surut, risiko baru muncul dari genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Warga pun perlu mewaspadai potensi meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Peringatan Keras Soal Penggunaan Air Banjir
Menjawab pertanyaan masyarakat mengenai apakah air banjir boleh digunakan untuk mandi, mencuci, hingga memasak, Dr. Dicky memberi penjelasan tegas.
“Air banjir itu tidak aman untuk minum untuk masak untuk cuci peralatan makan untuk sikat gigi untuk mandi apalagi jika ada luka,” katanya.
Menurutnya, penggunaan air banjir hanya boleh dilakukan dalam kondisi darurat dan dengan prosedur khusus, yaitu:
- Disaring,
- Diberi tablet penjernih air atau klorin,
- Direbus hingga benar-benar mendidih selama 1–3 menit,
- Peralatan makan tetap harus direbus kembali setelah dicuci.
Untuk mandi dan MCK, penggunaan air banjir tetap tidak disarankan, terutama bila terdapat luka di kulit.
Risiko Tetanus di Lokasi Banjir
Warga yang mengalami luka terbuka juga harus waspada terhadap penyakit tetanus.
Kontaminasi dari lumpur, kayu, paku berkarat, atau serpihan benda tajam dapat memicu infeksi serius jika luka tidak segera dibersihkan atau tidak mendapatkan vaksin anti-tetanus.
Dicky menekankan bahwa penyediaan air bersih, makanan aman, fasilitas MCK, dan pos kesehatan 24 jam merupakan kebutuhan paling mendesak dalam situasi bencana seperti di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
“Air banjir itu air kotor dan berbahaya dan penyakit pasca banjir itu bisa mematikan jika terlambat ditangannya. Jadi yang paling rentan itu sebenarnya kelompoknya anak, ibu hamil dan lansia,” tegasnya.
Ia juga menambahkan pentingnya pemantauan kesehatan secara berkelanjutan dan kesiapsiagaan pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya wabah pasca bencana.
Sumber : Tribunnews.com
