SMARTPEKANBARU.COM – Membaca ramalan zodiak kerap menjadi rutinitas harian bagi banyak orang, terutama generasi muda.
Dari peruntungan, asmara, hingga karier, zodiak seolah memberi petunjuk tentang apa yang akan terjadi.
Namun di balik kebiasaan tersebut, ada risiko psikologis yang sering luput disadari.
Psikolog di Klinik Utama Kasih Ibu Sehati, Hafizh Mutiara Nisa, S.Psi., M.Psi., CHt, menjelaskan bahwa zodiak pada dasarnya berisi peramalan atas sesuatu yang belum tentu terjadi.
Ketika seseorang mulai menjadikannya pedoman, pikiran bisa terjebak pada kekhawatiran yang bersumber dari prediksi, bukan kenyataan.
“Jadi mengkhawatirkan segala sesuatu yang sebenarnya mungkin belum tentu terjadi memang menimbulkan rasa cemas,”ungkapnya pada Healthy Talk Tribun Health di kanal YouTube Tribun Health, Rabu (7/1/2026).
Menurut Hafizh, kecemasan muncul ketika ramalan, terutama yang bernada negatif, terinternalisasi dalam diri.
Prediksi tentang musibah, kegagalan, atau kesialan bisa melekat kuat di ingatan dan memengaruhi cara seseorang menjalani hari.
Alih-alih menjalani aktivitas dengan tenang, individu justru menjadi terlalu waspada, takut salah langkah, dan sibuk mengantisipasi hal buruk yang belum tentu terjadi.
Dalam kondisi tertentu, fokus terhadap hal-hal penting bisa bergeser karena pikiran tersedot pada ramalan.
“Jadi tidak perlu menjalani hari-hari. Misalnya nih jadi gak fokus, aku harusnya berhati-hati nih tapi justru poin-poin penting yang harus dilakukan hari itu menjadi bergeser terfokus pada zodiak,” lanjutnya.
Selain memicu kecemasan, ketertarikan pada zodiak juga kerap berkaitan dengan kebutuhan akan identitas dan validasi diri.
Banyak orang merasa “terwakili” oleh deskripsi zodiak karena sifatnya yang umum dan mudah dikaitkan dengan pengalaman pribadi.
Hafizh menuturkan, informasi dalam zodiak tidak selalu bersifat negatif.
Ada pula gambaran positif yang dapat dimanfaatkan sebagai refleksi diri, terutama dalam mengenali potensi dan karakter sosial.
“Dan kemudian ini juga bisa membantu untuk mengenal dirinya apabila dimanfaatkan dengan lightning,”imbuhnya.
Namun, batasannya terletak pada cara memaknai. Zodiak tidak mampu menggambarkan kondisi personal seseorang secara spesifik karena sifatnya universal.
Ketika ramalan mulai memengaruhi keputusan, menurunkan semangat, atau membuat seseorang ragu menghadapi realitas, dampak psikologisnya patut diwaspadai.
Dalam konteks sosial, media digital juga berperan memperkuat kepercayaan terhadap zodiak.
Akses yang cepat, diskusi di lingkungan pertemanan, hingga kebiasaan membaca ramalan bersama membuat keyakinan tersebut terasa semakin “nyata”.
Meski demikian, Hafizh menekankan bahwa zodiak sebaiknya diposisikan sebagai hiburan atau bahan refleksi ringan.
Mengambil sisi positif untuk pengembangan diri masih dapat memberi manfaat, selama tidak menjadikan ramalan sebagai penentu arah hidup.
Menjalani hari dengan kesadaran penuh terhadap realitas, emosi, dan tanggung jawab pribadi tetap menjadi fondasi kesehatan mental.
Zodiak boleh dibaca, tetapi kendali hidup seharusnya tetap berada di tangan diri sendiri.
Sumber : Tribunnews.com
