
SMARTPEKANBARU.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, khususnya sistem pernapasan. Paparan polutan dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari batuk, sakit tenggorokan, iritasi mata hingga sesak napas. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui cara melindungi kesehatan paru saat kualitas udara memburuk.
Hal tersebut dibahas dalam podcast kesehatan bersama dr. Yolanda Julia Perel Putri, Sp.P, dokter spesialis paru dari RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, yang membahas mengenai cara menjaga kesehatan paru-paru di tengah kondisi kabut asap.
Dalam sesi tersebut, dr. Yolanda menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme pertahanan ketika terpapar benda asing, termasuk asap. Salah satu respons yang paling umum muncul adalah batuk, yang merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan partikel berbahaya dari saluran pernapasan.
“Jadi prinsipnya setiap benda asing itu harus ada mekanisme untuk mengeluarkannya melalui mekanisme imunitas atau kekebalan tubuh kita,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan mengandung partikel halus seperti PM2.5 yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai alveolus atau kantong udara di paru-paru. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Kelompok tertentu juga perlu mendapatkan perhatian lebih karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, serta penderita penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK maupun penyakit jantung.
Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus seperti N95 atau KN95 juga dapat menjadi salah satu upaya perlindungan.
“Mending lebih baik mencegah daripada mengobati kan. Jadi yang paling utama adalah menghindari paparan asap,” ujarnya.
Selain menggunakan masker, masyarakat juga dianjurkan menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela. Penggunaan pendingin ruangan dengan mode recirculation maupun air purifier dapat membantu mengurangi masuknya polutan dari luar.
Menjaga kondisi tubuh juga tidak kalah penting. Asupan nutrisi yang baik, konsumsi air putih yang cukup, serta istirahat yang memadai dapat membantu menjaga daya tahan tubuh selama menghadapi kondisi udara yang kurang baik.
Dr. Yolanda juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali perubahan kondisi tubuh masing-masing. Keluhan seperti batuk yang berlangsung lebih dari satu minggu, sesak napas yang mengganggu aktivitas, hingga penurunan saturasi oksigen perlu mendapat perhatian dan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
“Orang yang paling tahu tentang tubuh kita adalah kita sendiri. Jadi memang kita harus mengenali bagaimana tubuh kita sehari-hari,” katanya.
Ia turut menjelaskan bahwa sejumlah istilah yang sering digunakan masyarakat, seperti “paru-paru bocor” dan “paru-paru basah”, dapat merujuk pada kondisi medis tertentu yang memang membutuhkan penanganan. Salah satunya adalah pneumotoraks, yang dalam kondisi tertentu dapat memerlukan tindakan medis seperti pemasangan selang Water Seal Drainage (WSD).
Melalui edukasi tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan kondisi udara maupun gejala yang muncul selama paparan kabut asap. Membatasi paparan, menggunakan perlindungan yang tepat, menjaga kualitas udara di dalam ruangan, serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala serius menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan paru-paru.
