SMARTPEKANBARU – SETIAP kali Bank Indonesia merilis data uang beredar yang tumbuh positif, publik langsung disuguhi optimisme. Pada Oktober 2025, M2 tumbuh 7,7 persen dan M1 melonjak 11 persen, seolah-olah perekonomian sedang bergairah dan konsumsi mulai bangkit. Namun, pertanyaan yang lebih jujur perlu diajukan: apakah ekonomi benar-benar solid, atau sekadar mengambang di atas permukaan likuiditas yang mengembang? Judul ini bukan sekadar permainan bunyi, tetapi cerminan paradoks ekonomi kita. Likuiditas naik, tetapi arah dan kekuatannya masih menggantung.
Pertumbuhan M1 yang tinggi sering dibaca sebagai tanda aktivitas transaksi yang meningkat. Dalam teori Keynes, permintaan uang untuk transaksi naik ketika pendapatan dan konsumsi pulih (Keynes, 1936). Namun, kenyataan lapangan tidak selalu seindah teori. Kenaikan M1 bisa menandakan bahwa kelompok tertentu — terutama kelas konsumsi atas dan sektor korporasi — lebih aktif, sementara sebagian besar masyarakat masih berhati-hati mengelola pendapatan.
Pertumbuhan uang kuasi yang lebih rendah, hanya sekitar 5,5 persen, menunjukkan adanya keraguan publik untuk melepas uang mereka ke konsumsi atau investasi. Secara statistik likuiditas tampak mengembang, tetapi kenyataan sosial ekonominya belum kokoh. Inilah yang membuat perekonomian terasa mengambang: bergerak di permukaan, tetapi belum menyentuh dasar kekuatan permintaan agregat yang sesungguhnya.
Kredit melambat: Mesin produksi masih setengah hidup Di balik likuiditas yang naik, justru muncul fakta paling penting: kredit melambat menjadi 6,9 persen. Dalam teori moneter modern, uang beredar hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi apabila mengalir ke dalam kredit produktif yang diterjemahkan menjadi investasi, ekspansi usaha, dan aktivitas produksi (Mishkin, 2007). Jika kredit tidak tumbuh seiring likuiditas, maka ekonomi tidak mendapatkan “arus tenaga” yang dibutuhkan. Fenomena perlambatan kredit ini memperlihatkan bahwa dunia usaha masih menahan ekspansi. Perbankan juga lebih memilih menjaga kualitas aset daripada mendorong risiko baru.
Hasilnya, uang memang mengembang, tetapi tidak bergerak cepat. Ekonomi menjadi mengambang, seperti kapal yang penuh bahan bakar, tetapi tidak cukup angin untuk berlayar. Ada potensi, tetapi belum ada momentum. Dengan lebih dari 65 juta pelaku, UMKM adalah tulang punggung perekonomian. Namun ironinya, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih sekitar 15,7 persen—sangat kecil untuk ukuran ekonomi besar (Kemenko Ekon, 2024). Pertumbuhan uang beredar yang seharusnya menjadi peluang pembiayaan besar belum berhasil memperkuat sektor ini secara struktural.
Pembiayaan UMKM masih terjebak pada sektor perdagangan, bukan industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah. Dalam kerangka teori finance-led growth, modal hanya menciptakan pertumbuhan bila mengalir ke sektor produktif yang memiliki multiplier besar (Levine, 2005). Namun kenyataannya, sektor yang benar-benar menciptakan transformasi ekonomi belum mendapatkan aliran likuiditas yang kuat. Lagi-lagi, ekonomi terasa mengambang: bergerak tetapi tidak benar-benar menanjak. Salah satu faktor pendorong pertumbuhan M2 adalah naiknya aktiva luar negeri bersih sebesar 10,4 persen. Ini memperlihatkan bahwa sebagian likuiditas kita bersumber dari modal luar negeri. Pada satu sisi, ini memperkuat cadangan devisa. Namun dari sisi stabilitas, likuiditas berbasis eksternal bersifat gampang menguap—mudah masuk, mudah keluar.
Dalam teori ekonomi internasional, modal eksternal adalah modal yang “berkaki cepat” dan rentan terhadap perubahan sentimen global (Krugman & Obstfeld, 2009). Dengan fondasi yang banyak bertumpu pada likuiditas eksternal, perekonomian kembali terlihat mengambang: tampak kuat, tetapi rapuh di dasar. Terlihat besar di data, tetapi belum kokoh dalam struktur domestik. Optimisme ada, kepastian tidak Pertumbuhan uang beredar memang memberi harapan. Likuiditas yang memadai memberi ruang bagi penurunan suku bunga, konsumsi bisa bertumbuh, dan dunia usaha dapat kembali bergairah. Namun semua itu belum otomatis terjadi. Selama kredit belum mengalir deras, selama UMKM belum naik kelas, dan selama likuiditas masih tertumpuk dalam simpanan, maka ekonomi akan tetap bergerak tanpa kepastian.
Optimisme boleh, tetapi optimisme tanpa strategi hanya akan menciptakan ekonomi yang mengambang—bergerak, tetapi tanpa arah dan kekuatan. Kenaikan uang beredar bukanlah hasil akhir, melainkan sinyal awal yang perlu diterjemahkan ke kebijakan kredit, industrialisasi, dan ekspansi sektor produktif. Uang beredar memang mengembang. Statistiknya tampak meyakinkan. Neraca bank terlihat kuat. Likuiditas sistem keuangan melimpah. Namun, ekonomi riil masih mengambang—belum menemukan pijakan yang kuat untuk menanjak. Kredit bergerak pelan, UMKM belum mendapatkan dorongan nilai tambah, ekspor belum bertenaga, dan konsumsi masyarakat belum merata.
Indonesia tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah aliran uang yang tepat sasaran.
Selama likuiditas mengembang tetapi ekonomi tetap mengambang, paradoks ini akan terus menjadi tanda tanya besar: apakah kita bergerak menuju pemulihan nyata, atau hanya mengikuti gelombang data tanpa arah? Uang mengembang, ekonomi mengambang. Di antara keduanya, kebijakan harus memilih: membiarkan ekonomi terus melayang, atau mengarahkannya untuk benar-benar mendarat di fondasi pertumbuhan yang kuat.
Sumber : Kompas.com
