Cerita dari negeri fiksi
Di Desa Maju Mundur, ada lurah legendaris namanya Pak Parto Legowo. Umurnya sudah 72-an, badannya bulat kayak gentong, tapi semangatnya masih level anak OSIS.
Ciri khas beliau cuma dua: Baju safari coklat kantongnya 8 biji. Kantong kanan isi permen jahe, kantong kiri isi kuitansi studi banding.
Ciri lainnya, topi koboi. Katanya biar “berwibawa kayak di film Texas”. Padahal tetangganya nyebut “Topi Emping”.
Hobinya? Studi banding. Tiap minggu beliau “ziarah” ke desa tetangga, kecamatan sebelah, sampe pernah nyasar ke pasar sapi di kota. Alasannya mulia: “Kerjasama antar wilayah”.
Celakanya, warga Desa Maju Mundur sendiri dalam setahun nggak pernah dijenguk. Gang belakang yang jalannya kayak kapal pecah? “Nanti habis studi banding ya, Pak”. Pojok desa yang lampunya mati sejak jaman SBY? “Itu kan suasana temaram, estetik”.
Asisten pribadinya Bu Yati Bendahara, emak-emak galak yang hafal semua angka tapi nggak pernah hafal hasil studi bandingnya Pak Lurah.
Perangkat desanya: Mas Gino Kamituwo jago ngedit surat, dan Pak Karno Ketua RT yang kerjaannya cuma ngangguk.
Tiap pulang studi banding, Pak Parto langsung manggil warga. Katanya mau “diseminasi hasil”. Padahal isinya joged.
Nada musik dangdut diputar dari HP jadul. Pak Parto maju, goyang gemulai, topi koboinya miring. Selesai joged, langsung pidato.
Masalahnya… pidatonya nggak pernah nyambung sama tema.
Warga tanya, “Pak, gimana hasil studi banding soal irigasi?”
Pak Parto njawab, “Irigasi itu penting! Makanya jangan lupa minum air putih 8 gelas sehari! Kayak saya nih, seger terus! jedag jedug”
Warga ketawa ngakak. Sepuluh menit kemudian harga cabai di warung Bu Yati naik 5 ribu. Katanya “efek pidato inspiratif”.
Harga naik jadi trademark beliau. Tiap habis pidato standup comedy, besoknya harga beras, pupuk, sampe sewa tenda kondangan naik semua.
Taoke-taoke pada minggat. Bukannya buka warung baru, malah warung lama ditutup. Alasannya: “Pajak tinggi, preman banyak, mending jualan online”.
Lapangan kerja? Makin langka. Anak muda Desa Maju Mundur sekarang jagoannya cuma 2: jago scroll TikTok dan jago ngeluh.
Puncaknya waktu Pak Parto studi banding ke Desa Sukses Maju. Pulang-pulang beliau pidato: “Saya belajar banyak! Ternyata sukses itu bukan tentang kerja keras! Tapi tentang… dramatis… banyak-banyak bersyukur!”
Warga diam. Pak Karno bisik-bisik ke Mas Gino, “Lah terus pupuk subsidi gimana Pak?”
Pak Parto denger, langsung joged lagi. “Pupuk itu dari tanah, tanah itu anugerah, jadi kita harus… joged!”
Malamnya, Bu Yati ngitung keuangan desa sambil geleng-geleng. Kas desa habis buat bensin mobil dinas studi banding. Mas Gino ngetik surat pertanggungjawaban sambil ngelap keringat. Pak Karno muter-muter cari warga yang mau jadi ketua karang taruna. Nggak ada yang mau.
Besok paginya, ada spanduk baru di balai desa tulisan tangan Mas Gino:
“Selamat Datang di Desa Maju Mundur – Maju Mundur Cantik, Mundur Cantik Maju”.
Pak Parto lihat spanduk itu, ketawa, topi koboinya dilepas, terus joged lagi.
“Ini baru namanya branding desa!”
Warga cuma bisa ketawa. Ketawa sambil mikir besok harga telur naik berapa lagi.
TAMAT… tapi untuk sementara. Soalnya Pak Parto minggu depan katanya mau studi banding ke Bali. “Denger-denger di sana ada sistem pariwisata yang bisa kita copy…”, ujarnya sambil senyum dan kedipkan mata.
Bu Yati langsung pingsan. ***

Penulis : Rhr. Dodi Sarjana (Pakar Komunikasi/ Jurnalis)
