SMARTPEKANBARU.COM – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus memperkuat penerapan teknologi dan inovasi guna mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Kawasan ini hingga kini masih menjadi salah satu penopang utama produksi minyak nasional dengan kontribusi sekitar 30 persen terhadap total produksi minyak Indonesia. Dengan wilayah operasi yang mencapai lebih dari 6.400 kilometer persegi dan mencakup lebih dari 100 lapangan migas, Blok Rokan menjadi salah satu wilayah operasi migas darat terbesar di Indonesia.
General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan bahwa produksi minyak di Blok Rokan saat ini mencapai lebih dari 151 ribu barel per hari, sementara produksi gas mencapai sekitar 33 MMSCFD hingga akhir 2025. Menurutnya, capaian tersebut menjadi tanggung jawab besar bagi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang sudah berusia tua.
Pernyataan itu disampaikan Andre saat menghadiri pembukaan ajang The 50th IPA Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 yang berlangsung di Hall Nusantara ICE BSD City, Tangerang, Banten. Kegiatan tersebut menjadi salah satu ajang industri energi terbesar di Asia Tenggara dan menandai peringatan usia ke-50 Indonesian Petroleum Association (IPA). Acara itu juga dibuka langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Salah satu lapangan utama yang masih menjadi andalan produksi di WK Rokan adalah Lapangan Minas. Hingga saat ini, lapangan tersebut masih mampu menghasilkan sekitar 28 ribu barel minyak per hari. Andre menilai angka tersebut masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan banyak lapangan migas lain di Indonesia yang telah lama beroperasi.
Keberhasilan mempertahankan produksi di Lapangan Minas tidak terlepas dari penerapan berbagai tahapan pengelolaan migas. Pada tahap awal, produksi dilakukan melalui metode primary recovery dengan menggunakan pompa untuk mengangkat minyak ke permukaan. Seiring berjalannya waktu, perusahaan kemudian menerapkan teknologi enhanced oil recovery melalui metode waterflood guna menjaga tekanan reservoir agar produksi tetap optimal.
Andre menjelaskan bahwa teknologi waterflood telah membantu mempertahankan kestabilan produksi minyak di Lapangan Minas selama bertahun-tahun. Metode ini dilakukan dengan cara menginjeksikan air ke dalam reservoir untuk mendorong minyak agar lebih mudah mengalir menuju sumur produksi. Dengan pendekatan tersebut, lapangan yang telah berusia puluhan tahun itu masih mampu memberikan kontribusi besar terhadap produksi nasional.
Selain menerapkan teknologi waterflood, PHR juga melakukan transformasi pengelolaan Lapangan Minas melalui pendekatan “Back to Geology”. Strategi tersebut dilakukan dengan mengevaluasi kembali potensi bawah permukaan berdasarkan data geologi dan reservoir terbaru. Pendekatan itu terbukti berhasil mengubah tren penurunan produksi yang sebelumnya mencapai 11 persen per tahun menjadi kenaikan sekitar 3 persen per tahun.
Tidak hanya itu, penerapan strategi tersebut juga mampu meningkatkan produksi hingga sekitar 14 ribu barel minyak per hari. Menurut Andre, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa lapangan tua masih memiliki potensi besar apabila dikelola dengan pendekatan teknologi dan kajian yang tepat.
Setelah proses alih kelola dari Chevron ke Pertamina, tim di WK Rokan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai potensi yang masih tersisa di lapangan-lapangan tua. Dari hasil kajian tersebut, ditemukan masih banyak cadangan yang dapat dikembangkan, termasuk melalui pengaktifan kembali sumur-sumur idle atau sumur yang telah lama tidak berproduksi.
Andre mengatakan, setiap tahun perusahaan terus membuka kembali sejumlah sumur berdasarkan hasil kajian teknis serta data reservoir terbaru. Selain itu, PHR juga mulai mengembangkan lapisan reservoir yang sebelumnya dianggap sulit diproduksikan karena memiliki permeabilitas rendah atau kemampuan aliran minyak yang kecil.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, perusahaan menerapkan berbagai teknologi baru, salah satunya metode Low Resistivity Reservoir (LRR). Teknologi ini kini menjadi salah satu fokus pengembangan industri hulu migas nasional karena dinilai mampu membantu mengidentifikasi cadangan minyak yang sebelumnya sulit terdeteksi menggunakan metode konvensional.
Optimalisasi produksi juga dilakukan di Lapangan Duri yang selama ini dikenal dengan penerapan teknologi steamflood. Teknologi tersebut telah digunakan selama lebih dari 40 tahun dan terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas produksi minyak di lapangan tua.
Dalam penerapannya, teknologi steamflood dilakukan dengan menginjeksikan uap panas ke dalam reservoir agar minyak yang memiliki tingkat kekentalan tinggi menjadi lebih mudah mengalir. PHR juga terus melakukan integrasi antara pengelolaan bawah permukaan dan fasilitas permukaan, termasuk melalui pengendalian distribusi uap secara presisi agar proses produksi menjadi lebih efisien.
Andre menegaskan bahwa teknologi steamflood menjadi salah satu andalan perusahaan dalam meningkatkan recovery factor atau tingkat perolehan minyak di lapangan tua. Menurutnya, inovasi dan pengembangan teknologi menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional di tengah tantangan penurunan produksi alami pada lapangan-lapangan yang telah lama beroperasi.
Melalui berbagai inovasi tersebut, PHR berharap WK Rokan dapat terus memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan energi nasional. Perusahaan juga menargetkan agar berbagai teknologi yang diterapkan di Blok Rokan dapat menjadi contoh pengelolaan lapangan migas tua yang efektif dan berkelanjutan di Indonesia.
Sumber: Tribun Pekanbaru
