SMARTPEKANBARU.COM – Karya seni rupa Per’EMPU’an yang menghadirkan penafsiran ulang atas makna empu sebagai simbol perempuanNusantara dipamerkan di Amuya Gallery, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Gelar empu dalam tradisi Jawa tidak hanya merujuk pada ahli pembuat keris atau manuskrip, tetapi juga pada sosok yang dihormati karena keluasan ilmu, kearifan spiritual, dan ketajaman rasa.
Pameran yang diadakan Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana (FDSK UMB) dibuka Sabtu (15/11/2025) lalu menghidupkan kembali konsep tersebut menggambarkan perempuan masa kini sebagai penjaga pengetahuan, pencipta makna, dan pemikul peradaban.
Makna empu menjadi pijakan tematik bagi para perupa dalam memotret perempuan sebagai figur yang bekerja dalam senyap, tetapi menentukan arah budaya.
Kurator menempatkan gagasan perempuan sebagai empu kontemporer bukan sekadar simbol ketekunan, tetapi juga representasi agensi, kepakaran, dan kemampuan mencipta dalam berbagai medium.
Kehadiran perupa senior Irma Hardisurya memperkuat fondasi historis gagasan tersebut.
Karyanya, “Kursiku, Singgasanaku” (2023), diposisikan sebagai penanda bahwa ruang personal perempuanmerupakan wilayah otonomi yang memberi legitimasi pada kepakaran dan kebijaksanaan—dua kualitas yang sejak dulu dilekatkan pada seorang empu.
Pembacaan ulang konsep empu tampak dalam berbagai karya yang melihat perempuan sebagai penjaga tradisi dan penafsir zaman.
Rika Hindraruminggar, melalui dokumenter “Peramu Jamu”, menampilkan praktik meracik jamu sebagai ritual yang diwariskan turun-temurun.
“Perempuan sebagai penghubung kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Rika.
Wilsa Pratiwi, lewat ilustrasi makanan tradisional dalam Dari Dapur ke Budaya, menegaskan peran dapur sebagai ruang tempat perempuan selama ini membangun dan melestarikan identitas kuliner Nusantara.
Dalam karya Mira Zulia Suriastuti, “Leluri Rupa Perempuan”, kayu menjadi medium yang merekam gerakan tangan perempuan, seolah membuktikan bahwa jejak perempuan tersimpan dalam benda-benda sehari-hari.
Adapun Fatimah Yasmin Hasni melalui “Secarik Kenangan, Aroma Kain” menggunakan aroma kain dan simbol gawangan ukir.
“Saya ingin menunjukkan bagaimana warisan batik perlahan memudar tanpa peran aktif perempuan sebagai pewaris budaya,” katanya.
Sementara itu, penafsiran kontemporer tentang empu hadir melalui eksplorasi identitas, tubuh, dan kebebasan.
Anggi Dwi Astuti memadukan tradisi dan mode adibusana sebagai pernyataan bahwa perempuan masa kini menegosiasikan makna dirinya melalui medium pakaian.
Nina Maftukha dengan patung biru kobalt berkepala ganda dan caping, mematahkan stereotip perempuan ideal, sebuah langkah kritis yang menunjukkan bahwa kepakaran perempuan tidak dapat dibatasi oleh tatapan luar.
Kritik sosial diperkuat Nukke Sylvia, yang menampilkan figur Janin Emas sebagai metafora terhadap pengambilalihan identitas di bawah kapitalisme.
Chandrarezky Permatasari melalui “Air Mata Pertiwi” menggugat ikonografi Ibu Pertiwi yang kerap membebani tubuh perempuan sebagai representasi bangsa.
Dua karya ini memperluas konsep empu sebagai sosok yang tidak hanya merawat budaya, tetapi juga berani menegur ketidakadilan sosial.
Dimensi spiritual dan mitologis juga hadir dalam karya Dwi Susilawati, “Mythos”, yang menggambarkan perempuan sebagai dewi dan entitas alam dalam siklus abadi kehidupan.
Di sisi lain, Vania Aqmarani Sulaiman menegaskan perempuan sebagai empu kontemporer melalui perhiasan logam, membawa gagasan bahwa “seribu peran dalam satu jiwa” adalah bentuk kemewahan eksistensial yang hanya dimiliki perempuan.
Penutup pameran dihadirkan melalui video art “CINTA” karya Novena Ulita, yang menempatkan dapur sebagai locus of change, menunjukkan bahwa transformasi besar kerap berangkat dari tindakan kecil perempuan sehari-hari.
Pameran Per’EMPU’an pada akhirnya menegaskan bahwa di balik keragaman medium dan estetika, pusat narasinya tetap sama: perempuan adalah empu yang merawat, menafsirkan, dan membentuk wajah kebudayaan Nusantara.
Sumber : Tribunnews.com
