SMARTPEKANBARU.COM – Atrial Fibrillation (AF) atau fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantungyang sering tidak bergejala namun berpotensi menimbulkan komplikasi serius, termasuk stroke.
dr. Simon Salim, Sp.PD-KKV, MKES, AIFO, FINASIM, FACP, FICA, Konsultan Elektrofisiologi/Terapi Alat & Kardiologi Intervensi menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang sering disebut penyakit senyap ini.
“Tidak semua yang merasa berdebar itu gangguan irama jantung, dan tidak semua gangguan irama jantung terasa berdebar,” ujar Simon saat Cardiac Forum Jakarta 2025 Symposium yang mengusung tema “Current Breakthrough in Cardiovascular Diseases Management: A Team-Approach Fashion di Jakarta belum lama ini.
Ia menekankan bahwa AF kerap tidak disadari oleh penderitanya.
“AF paling banyak terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan dapat dipicu oleh faktor usia, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, kurang olahraga, serta konsumsi alkohol,” katanya.
AF memiliki risiko fatal, terutama meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke hingga lima kali lipat dibanding individu tanpa gangguan irama jantung.
“Itulah mengapa deteksi dini dan pengendalian AF sangat penting,” jelas dr. Simon.
Terapi Modern Bisa Kendalikan AF
Di Indonesia, berbagai terapi terbaru untuk mengendalikan AF ini, di antaranya radiofrequency Ablation, cryoballoon Ablation dan pulsed-Field Ablation (PFA) yakni teknologi terbaru yang lebih aman dan meminimalkan risiko cedera jaringan sekitar jantung.
“Dulu pasien berpikir ablasi harus dilakukan di luar negeri. Padahal, peralatan dan prosedurnya sama persis di Indonesia, dan dokter-dokternya pun telah mendapat pelatihan internasional,” tambah dr. Simon.
Selain prosedur ablasi, masyarakat disarankan lebih peka terhadap irama jantung melalui cara sederhana, misalnya meraba nadi atau menggunakan smartwatch yang kini mampu mendeteksi aritmia.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Todung Donald Aposan Silalahi, Sp.PD, KKV, FINASIM, FICA, FAPSIC, FACC, FCAI, Konsultan Radiologi Intervensi menyoroti perkembangan High Quality PCI (Percutaneous Coronary Intervention) yang kini telah banyak tersedia di Indonesia..
“Sekarang bukan hanya sekadar kateterisasi. Kita melakukan pemasangan stent dengan IVUS, FFR, rotablasi untuk kalsifikasi berat, hingga penggunaan stent berkualitas tinggi,” jelasnya.
Salah satu kasus yang paling menantang adalah kronik total oklusi—sumbatan 100 persen.
“Dengan alat yang lengkap, kami berhasil membuka sumbatan hingga 100?n memasang stent,” tambahnya.
Todung juga menyinggung bahwa masih banyak masyarakat yang berobat ke luar negeri hanya karena kurangnya informasi padahal di Indonesia teknologinya lebih baik.
Sumber : Tribunnews.com
