SMARTPEKANBARU.COM – Asal-usul istilah “Merry Christmas” yang kerap disematkan dalam kartu atau pesan ucapan Selamat Natal, termasuk pada perayaan Natal 2025 tahun ini.
Istilah “Merry Christmas” pun terbilang unik, sebab biasanya, dalam bahasa Inggris, ucapan selamat memakai kata “Happy.”
Seperti, “Happy Easter”, “Happy Holiday”, “Happy Halloween”, “Happy Birthday”, hingga “Happy New Year.”
Namun, untuk peringatan kelahiran Yesus Kristus -Sang Juru Selamat pembawa pesan kasih, damai, dan harapan bagi dunia- yang jatuh setiap tanggal 25 Desember, istilah yang lazim digunakan adalah “Merry Christmas.”
Meski begitu, di Inggris sendiri, istilah “Happy Christmas” belum sepenuhnya hilang, masih dipakai secara luas di berbagai wilayah.
Sebagaimana dikutip dari laman countryliving.com, ada alasan terkait kelas sosial atau bersifat klasis (classist) di balik penggunaan istilah tersebut.
Istilah ‘happy’ dipakai karena diyakini memiliki kiasan atau merepresentasikan kelas sosial yang lebih tinggi daripada ‘merry’, yang dianggap melekat dengan kelas bawah.
Dalam bahasa Indonesia, ‘merry’ sendiri dapat diterjemahkan sebagai ‘gembira,’ ‘sukaria,’ atau ‘meriah.’
Anggota keluarga Kerajaan Inggris pun telah memiliki kebiasaan mengucapkan selamat Natal dengan istilah “Happy Christmas.”
Sebelum wafat pada 2022, Ratu Elizabeth II selalu menggunakan “Happy Christmas” setiap tahunnya untuk mengucapkan Selamat Natal kepada warganya, ketimbang memakai “Merry Christmas.”
Istilah “Merry Christmas” memang tidak diketahui secara pasti asal-usulnya.
Akan tetapi, ada beberapa teori yang bisa disimak.
Menurut penelusuran sejarah, istilah “Merry Christmas” telah dipakai setidaknya sejak tahun 1534, tepatnya dalam sebuah surat tertanggal 22 Desember dari uskup Katolik Inggris yang dipenjara, bernama John Fisher.
Surat tersebut, ditujukan kepada pengacara sekaligus Menteri Kepala era Raja Henry VIII, Thomas Cromwell.
Dalam suratnya, John Fisher yang telah dipenjara di Menara London selama delapan bulan karena menolak mengakui Raja Henry VIII sebagai Kepala Tertinggi Gereja dan Pendeta Inggris, meminta pakaian, makanan, dan kondisi yang layak.
Ia menutup suratnya dengan kalimat “And this our Lord God send you a merry Christmas…” yang artinya, “Dan Tuhan kita mengirimkan kepada Anda Natal yang meriah…”
Setahun setelah surat tersebut, John Fisher dieksekusi.
Lalu, sekitar 400 tahun setelah eksekusinya, John Fisher dinobatkan oleh Gereja Katolik Roma sebagai saint atau santo pada 1935.
Selain surat John Fisher, istilah “Merry Christmas” menjadi populer berkat novel A Christmas Carol karya Charles Dickens yang menjadi buku terlaris ketika diterbitkan pada tahun 1843, dikutip dari time.com.
Dalam buku tersebut, tokoh keponakan Scrooge berseru, “A Merry Christmas, uncle! God save you!” yang artinya “Selamat Natal, Paman! Tuhan memberkatimu!”
Pada periode yang sama, kartu Natal cetak komersial pertama mulai muncul dengan ungkapan “Merry Christmas.”
Soal Makna Istilah
Para sejarawan juga percaya bahwa penggunaan istilah “Merry Christmas” diperkirakan bermuara pada aspek makna dan tata bahasa sederhana dalam Bahasa Inggris.
“Happy” yang ada pada “Happy Christmas” adalah kata yang lebih menggambarkan kondisi emosional batin yang bahagia, sementara “Merry” lebih merupakan deskripsi perilaku sesuatu yang aktif atau riuh.
Sehingga, bisa jadi ucapan Selamat Natal dirasa lebih tepat memakai istilah “Merry Christmas” yang menggambarkan tindakan ceria atau bersenang-senang, dibandingkan kata yang hanya menggambarkan kondisi ‘bahagia.’
Hal ini dinilai lebih sesuai untuk menggambarkan sukacita Natal.
Seiring waktu, istilah “Merry” bahkan membuat orang lebih mudah mengasosiasikannya dengan tanggal 25 Desember ketimbang penggunaan lainnya, seperti idiom atau ungkapan ‘the more the merrier’ yang artinya ‘semakin banyak, semakin meriah/seru.’
Sumber : Tribunnews.com
