SMARTPEKANBARU.COM – Aktris Dian Sastrowardoyo, membagikan pandangannya mengenai pentingnya kepercayaan diri bagi perempuan.
Terutama ketika harus tampil di ruang profesional maupun kreatif yang didominasi oleh standar global.
Dalam sebuah forum tentang perempuan dan inovasi, Dian menceritakan pengalaman pribadi yang membawanya pada kesadaran bahwa rasa percaya diri sering kali dipengaruhi oleh pola pikir yang terbentuk sejak lama.
Menurut Dian, tantangan terbesar bukan selalu soal kemampuan teknis atau gender, tetapi cara perempuan memandang dirinya sendiri ketika berada di situasi kompetitif.
Ia mengaku sempat merasakan tekanan tersebut ketika terlibat dalam produksi film internasional yang melibatkan produser dari berbagai negara.
“Mengenai kepercayaan diri ini, ini bukan masalah perempuan ataupun masalah gender, ini kayaknya masalah postkolonialis deh,” ujar Dian pada acara Demo Day Perempuan Inovasi 2025 “Menjadi Changemaker di Era AI: Kekuatan Perempuan dalam Transformasi Profesi” di Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2025).
Dian mengatakan, perasaan minder bisa muncul karena sebagian perempuan masih membawa beban pola pikir pasca kolonial.
Terutama ketika berhadapan dengan rekan kerja dari negara yang dianggap lebih maju.
Padahal, menurutnya, banyak ide kreatif dari Indonesia yang tidak kalah orisinal.
Dian menilai bahwa kepercayaan diri sering kali tumbuh dari kemampuan seseorang untuk menyampaikan gagasannya dengan jelas.
Ia mencontohkan bahwa pekerja kreatif internasional bisa tampak lebih dominan bukan karena ide mereka lebih kuat, tetapi karena kemampuan bahasa dan penyampaian yang lebih lancar.
Karenanya, dalam membangun kepercayaan diri, Dian menekankan pentingnya perempuan untuk memperkuat literasi bahasa dan kemampuan berbicara.
Ia merujuk pada teladan para pendiri bangsa yang mampu menyuarakan pemikiran secara meyakinkan karena menguasai berbagai bahasa.
“Pak Soekarno kan bisa begitu ya, karena dulu dia polyglot (memahami banyak bahasa), karena dia dulu bisa belajar multiple bahasa, mereka jadi sangat artikulatif,” kata Dian.
Menurutnya, perempuan masa kini yang ingin berkontribusi di bidang teknologi, kreativitas, maupun ruang global lainnya, juga perlu mempelajari bentuk “bahasa” yang relevan dengan zamannya.
Mulai dari UI/UX, coding, hingga kemampuan membaca pola industri internasional.
Dian menyebut bahwa rasa percaya diri akan tumbuh ketika perempuan mampu berbicara, berargumen, dan menyampaikan gagasan dengan jelas dalam arena yang sama.
Oleh karena itu, penguasaan bahasa asing dan public speaking merupakan keterampilan yang sebaiknya dipelajari sejak dini.
“Di saat kita menguasai bahasanya dan grammar-nya, lancar kita, you can make a poin, bisa berantem kita sama dia,” ucap Dian.
Ia berharap perempuan Indonesia tidak merasa inferior ketika memasuki ruang profesional, apa pun latar belakangnya.
Menurutnya, perempuan memiliki kemampuan kreatif yang kuat, dan rasa percaya diri adalah langkah awal untuk menghadirkannya ke dunia.
Dengan memahami bahasa, mengasah argumen, serta terus membuka diri pada pengetahuan baru, Dian percaya perempuan dapat tampil lebih berani dan setara dalam berbagai kesempatan, termasuk di tingkat internasional.
Sumber : Tribunnews.com
