SMARTPEKANBARU.COM- Diabetes seringkali hanya diidentikkan dengan kadar gula darah yang tinggi, namun ancaman sebenarnya justru muncul ketika terjadi luka yang sulit sembuh. Fenomena luka kronis ini bukan sekadar masalah kulit, melainkan sinyal adanya kerusakan sistemik yang lebih dalam. Menurut Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Vaskular RS Pondok Indah, dr. Andrew Jackson Yang, penyebab utama lambatnya pemulihan luka pada penderita diabetes terletak pada gangguan sirkulasi pembuluh darah dan fungsi saraf yang mulai menurun.
Kondisi hiperglikemia atau gula darah tinggi yang berlangsung secara kronis dapat merusak lapisan endotel, yakni lapisan terdalam pada pembuluh darah. Kerusakan ini memicu penumpukan plak aterosklerosis yang mengakibatkan penyempitan aliran darah, sehingga pasokan oksigen serta nutrisi penting tidak dapat mencapai jaringan tubuh secara optimal. Akibatnya, jaringan yang kekurangan suplai darah, terutama pada bagian kaki, akan mengalami hambatan dalam proses regenerasi sel dan penyembuhan luka.
Dalam sebuah sesi edukasi media di Jakarta, Jumat (27/2/2026), dr. Andrew menekankan bahwa penyumbatan aliran darah yang parah dapat berujung pada kematian jaringan atau gangren. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa luka kecil pada kaki penyandang diabetes seringkali berkembang menjadi kondisi medis yang serius. Tanpa penanganan vaskular yang tepat, risiko kehilangan anggota tubuh menjadi ancaman nyata bagi pasien yang sirkulasi darahnya terhambat.
Masalah kedua yang tak kalah krusial adalah neuropati atau gangguan saraf yang menyebabkan hilangnya sensasi rasa sakit. Rasa nyeri sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk perlindungan diri, namun pada penderita diabetes, sensor ini seringkali mati rasa atau baal. Hal ini membuat luka kecil, seperti lecet akibat sepatu yang sempit, tidak disadari oleh pasien sehingga luka tersebut terus tertekan, melebar, dan akhirnya mengalami infeksi parah karena telat ditangani.
Selain faktor pembuluh darah dan saraf, daya tahan tubuh yang melemah juga menjadi penghambat besar dalam proses pemulihan. Sistem imun penderita diabetes cenderung tidak seagresif orang sehat dalam melawan bakteri yang masuk melalui luka. Kombinasi antara buruknya aliran darah, hilangnya refleks pelindung saraf, dan lemahnya sistem imunitas menciptakan lingkaran setan yang membuat infeksi sulit dikendalikan dan luka terus memburuk.
Sebagai solusi medis, dr. Andrew menjelaskan bahwa tindakan refaskularisasi atau perbaikan aliran darah menjadi kunci utama untuk mencegah tindakan amputasi. Evaluasi mendalam terhadap kondisi pembuluh darah sangat diperlukan karena luka diabetes adalah indikator adanya gangguan serius pada sistem peredaran darah pasien. Dengan memperbaiki aliran oksigen dan nutrisi ke area luka, peluang kesembuhan dan penyelamatan organ tubuh pasien akan jauh lebih besar.
Sumber : Tribun
