SMARTPEKANBARU.COM – Nilai tukar rupiah atau kurs rupiah terhadap dollar AS pekan lalu berada dalam tren pelemahan dan menyentuh level di atas 16.700-an. Lantas, apa yang akan terjadi ketika kurs rupiah terhadap dollar AS terus melemah? Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, tren pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat membawa beberapa dampak seperti tekanan inflasi impor meningkat melalui harga energi, pangan olahan, obat, dan barang modal.
“Hal ini bisa mengikis daya beli kelas menengah dan menunda pemulihan konsumsi,” kata dia kepada Kompas.com, Senin (29/9/2025).
Kemudian, ia menambahkan, efek lain dari pelemahan rupiah yang berkepanjangan adalah beban bunga dan pokok utang valas korporasi yang naik.
Hal ini bisa menekan margin dan belanja modal, terutama pada sektor yang berorientasi impor bahan baku. Selanjutnya, pelemahan rupiah akan berpengaruh pada kebutuhan pembiayaan pemerintah berpotensi bertambah karena yield Surat Berharga Negara (SBN) terdorong naik, sementara kredibilitas fiskal menjadi lebih krusial untuk menahan premi risik.
Keempat, pelemahan rupiah bisa membuat neraca pembayaran tertekan oleh kenaikan nilai impor dan sentimen portofolio yang rapuh, sehingga cadangan devisa harus lebih aktif digunakan untuk smoothing.
Dalam kondisi seperti ini, Josua berujar, sinyal kebijakan yang konsisten sangat menentukan.
“Komunikasi fiskal yang jelas tentang defisit, komitmen menjaga disiplin anggaran, serta bauran kebijakan moneter-makroprudensial yang menahan inflasi dan menstabilkan ekspektasi kurs akan lebih efektif menurunkan premi risiko dan menutup celah arus modal keluar,” imbuh dia.
Josua menjabarkan, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir terutama didorong oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi global, revisi ke atas Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II-2025 menjadi 3,8 persen disertai belanja rumah tangga yang masih kuat membuat pasar kembali menahan ekspektasi pemangkasan agresif suku bunga The Fed.
“Dollar AS menguat secara luas, imbal hasil US Treasury naik, dan sentimen risiko ke aset negara berkembang melemah. Dinamika ini tercermin pada penguatan indeks dolar setelah rilis data tersebut serta fokus pasar yang bergeser ke rilis ketenagakerjaan AS pekan ini,” terang dia.
Sedangkan di kawasan, tekanan terhadap mata uang Asia juga dipicu ketidakpastian tarif baru AS atas sejumlah produk, sehingga arus keluar ke aset dolar menjadi lebih deras. Dari sisi domestik, rupiah ikut tertekan oleh keluarnya dana portofolio asing dari obligasi dan saham serta meningkatnya premi risiko Indonesia di tengah perdebatan arah kebijakan fiskal dan prioritas pemerintahan baru.
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot Jumat sore ditutup melemah. Data Bloomberg mencatat pukul 15.18 WIB rupiah berada di level Rp 16.738 per dollar AS. Rupiah naik 11 poin atau 0,07 persen dibanding penutupan sebelumnya Rp 16.749 per dollar AS.
Sementara itu, mengaju kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan angka berbeda. Pada Jumat (26/9/2025), kurs rupiah berada di Rp 16.775 per dollar AS. Posisi ini lebih lemah dibanding Kamis (25/9/2025) yang tercatat Rp 16.752 per dollar AS.
Sumber: Kompas.com
