SMARTPEKANBARU.COM – Kain tradisional Bali kini tak lagi hanya lekat dengan fungsi pelengkap busana pantai atau kain penutup santai.
Lewat pendekatan desain modern, kain khas Pulau Dewata mulai bertransformasi menjadi busana couture yang relevan untuk gaya hidup perempuan masa kini fleksibel, berkarakter, dan tetap berakar pada nilai tradisi.
Busana couture modern adalah pakaian yang dibuat dengan standar tinggi layaknya couture mulai dari kualitas bahan, detail jahitan, hingga sentuhan pengerjaan tangan amun dirancang agar tetap relevan dan nyaman untuk gaya hidup masa kini.
Berbeda dengan couture klasik yang identik dengan busana rumit dan hanya dikenakan di acara tertentu, couture modern hadir dengan desain yang lebih sederhana, fungsional, dan mudah dipakai sehari-hari tanpa kehilangan kesan eksklusif.
Setiap busana biasanya dibuat dalam jumlah terbatas, bisa disesuaikan dengan karakter pemakainya, dan sering memanfaatkan kain berkualitas tinggi, termasuk kain tradisional seperti yang dihadirkan FYI Couture (For Your Infinity).
Tren ini muncul seiring meningkatnya minat terhadap fashion yang tak sekadar estetis, tetapi juga memiliki cerita dan nilai budaya.
Kain Bali, dengan warna-warna berani dan motif khasnya, dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pakaian jadi yang lebih modern dan fungsional.
“FYI hadir untuk menaikkan level kain-kain tradisional Nusantara dari berbagai wilayah di Indonesia dengan cara modern,” ujar Fiona Yao, Head Designer FYI kepada awak media, Minggu (27/12/2025).
Selama ini, kain Bali identik digunakan sebagai alas duduk di pantai atau kain pembungkus saat mengenakan pakaian renang.
Namun, lewat eksplorasi desain, kain tersebut kini tampil dalam bentuk busana ready couture yang bisa dikenakan di berbagai momen.
Pendekatan ini sejalan dengan filosofi slow fashion yang kian diminati yakni produksi terbatas, pengerjaan buatan tangan, serta keunikan di setiap helai kain yang menjadi nilai tambah.
“Tidak ada satu pun pakaian yang sama persis. Model bisa sama, tapi material pasti berbeda,” jelas Fiona Yao.
“Kami menggunakan kain tradisional Indonesia dari berbagai pulau, bahkan ada juga koleksi pribadi kami yang usianya lebih dari lima puluh tahun,” jelasnya.
Selain menawarkan keunikan visual, busana dari kain tradisional juga dipandang sebagai medium ekspresi identitas perempuan modern.
“Kita sebagai wanita memiliki banyak identity. We are mothers, workers, business owners, and hobby lovers,” ungkap Fiona Yao.
Semangat tersebut juga tercermin dalam koleksi yang terinspirasi langsung dari kain Bali.
Koleksi bertema pulau menghadirkan dua gaya berbeda, mulai dari sentuhan animal print modern hingga warna-warna vibrant khas kain Bali yang berani dan ekspresif.
“We want to connect with women. Perempuan dengan karakter dan multiple identities yang ingin menunjukkan kepercayaan diri dan bangga mengenakan kain tradisional Indonesia dalam kualitas couture,” kata Anastasia Praitha, Brand Director sekaligus Brand Ambassador FYI.
Tak berhenti pada busana, tren ini juga meluas ke ranah pemberdayaan dan edukasi perempuan.
“Kami ingin perempuan tidak hanya terlihat baik dari luar, tapi juga merasa kuat dari dalam,” ujar Anastasia.
Di tengah geliat fashion berbasis kain Nusantara tersebut, FYI Couture (For Your Infinity) hadir sebagai brand yang menerjemahkan jiwa couture ke dalam busana sehari-hari.
Berdiri pada 2025 dan lahir di Bali, FYI mengusung konsep daily couture dengan produksi terbatas, pengerjaan tangan, serta fleksibilitas personalisasi.
Dengan pendekatan ini, FYI berupaya menjadikan kain tradisional termasuk kain Bali sebagai bagian dari gaya hidup modern yang relevan, personal, dan berkelanjutan.
Sumber : Tribunnews.com
