SMARTPEKANBARU.COM – Keinginan agar anak cepat masuk sekolah sering kali muncul dari anggapan bahwa semakin dini anak belajar, semakin baik perkembangannya.
Namun, hasil kajian tumbuh kembang anak menunjukkan bahwa memulai sekolah formal terlalu dini justru berpotensi menimbulkan dampak tertentu.
Hal ini disampaikan Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Hesti Lestari, Sp.A, Subsp. TKPS(K), dalam seminar media yang membahas kesiapan anak bersekolah.
Ia menyoroti temuan jurnal yang menunjukkan adanya risiko perilaku pada anak yang masuk sekolah lebih muda dibandingkan rata-rata usia teman sebayanya.
“Kalau usia dimulai pada usia yang lebih muda dari rata-rata anak masuk sekolah, ada jurnal yang menyebutkan 50 persen lebih sering anak menjadi hiperaktif,” ungkap Dr. Hesti pada diskusi media virtual, Rabu (17/12/2025).
Perbedaan usia dalam satu kelas dapat berdampak pada perbedaan kematangan emosi dan perilaku.
Anak yang lebih muda sering kali belum siap mengatur perhatian, mengontrol emosi, atau mengikuti aturan kelas secara konsisten.
Selain itu, anak yang masuk sekolah terlalu dini juga berisiko mengalami kesulitan dalam aspek sosial.
Ia mungkin merasa tertinggal secara emosional dibandingkan teman-temannya, yang dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kemampuan beradaptasi.
Pada anak perempuan, dampak jangka panjang juga menjadi perhatian.
Dari sisi fisik, kesiapan sekolah dini juga berkaitan dengan kondisi kesehatan anak.
Anak yang sering sakit, mengalami gangguan tidur, atau memiliki masalah nutrisi dapat kesulitan mengikuti aktivitas belajar secara optimal.
Gangguan pendengaran atau penglihatan yang belum terdeteksi, termasuk masalah sederhana seperti sumbatan kotoran telinga atau penglihatan kabur, dapat menghambat kemampuan anak menyerap informasi di kelas.
Dr. Hesti menegaskan bahwa perkembangan kognitif tidak muncul secara tiba-tiba pada usia sekolah.
Pembentukan sinaps otak membutuhkan stimulasi yang sesuai usia dan pengalaman yang berkelanjutan sejak dini.
Sinaps otak adalah sambungan atau celah antara dua sel saraf (neuron) yang memungkinkan informasi (sinyal) diteruskan dari satu neuron ke neuron lain.
Oleh karena itu, pendidikan informal di rumah dan pendidikan non formal memiliki peran penting dalam menyiapkan anak sebelum memasuki sekolah formal.
Proses ini perlu dilakukan secara bertahap dan menyeluruh, bukan dipercepat hanya demi mengejar usia masuk sekolah.
Sumber : Tribunnews.com
